sitiativa











Malcolm Knowles (1970) dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
a. Konsep Diri: Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara.
Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.

b. Peranan Pengalaman: Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan “Experiential Learning Cycle” (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman). Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.

c. Kesiapan Belajar : Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.

d. Orientasi Belajar: Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.

Peranan Evaluasi Pendekatan: evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
a) Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran/pelatihan;
b) Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu sendiri (Self Evaluation);
c) Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan;
d) Ruang lingkup materi evaluasi “ditetapkan bersama secara partisipatif” atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat;
e) Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program;
f) Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.

Lebih detail tentang perbedaan pedagogik dan andargogi sebagai berikut:

No Asumsi Pedagogik Andragogi
1 Kosep tentang diri peserta didik Peserta didik digambarkan sebagai seseorang yang bersifat tergantung. Masyarakat mengharapkan para guru bertanggung jawab sepenuhnya untuk menentukan apa yang harus dipelajari, kapan, bagaimana cara mempelajarinya, dan apa hasil yang diharapkan setelah selesai Adalah suatu hal yang wajar apabila dalam suatu proses pendewasaan, seseorang akan berubah dari bersifat tergantung menuju ke arah memiliki kemampuan mengarahkan diri sendiri, namun setiap individu memiliki irama yang berbeda-beda dan juga dalam dimensi kehidupan yang berbeda-beda pula. Dan para guru bertanggungjawab untuk menggalakkan dan memelihara kelangsungan perubahan tersebut. Pada umumnya orang dewasa secara psikologis lebih memerlukan penga- rahan diri, walaupun dalam keadaan tertentu mereka bersifat tergantung.

2 Fungsi Pengalaman peserta didik Di sini pengalaman yang dimiliki oleh peserta didik tidak besar nilainya, mungkin hanya berguna untuk titik awal. Sedangkan penglaman yang sangat besar manfaatnya adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari gurunya, para penulis, produsen alat-alat peraga atau alat-alat audio visual dan pengalaman para ahli lainnya. Oleh karenanya, teknik utama dalam pendidikan adalah teknik penyampaian yang berupa: ceramah, tugas baca, dan penyajian melalui alat pandang dengar. Di sini ada anggapan bahwa dalam perkembangannya seseorang membuat semacam alat penampungan (reservoair) pengalaman yang kemudian akan merupakan sumber belajar yang sangat bermanfaat bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain. Lagi pula seseorang akan menangkap arti dengan lebih baik tentang apa yang dialami daripada apabila mereka memperoleh secara pasif, oleh karena itu teknik penyampaian yang utama adalah eksperimen, percobaan-percobaan di laboratorium, diskusi, pemecahan masalah, latihan simulasi, dan praktek lapangan.

3 Kesiapan belajar Seseorang harus siap mempelajari apapun yang dikatakan oleh masyarakat, dan hal ini menimbulkan tekanan yang cukup besar bagi mereka karena adanya perasaan takut gagal, anak-anak yang sebaya diaggap siap untuk mempelajari hal yang sama pula, oleh karena itu kegiatan belajar harus diorganisasikan dalam suatu kurikulum yang baku, dan langkah-langkah penyajian harus sama bagi semua orang. Seseorang akan siap mempelajari sesuatu apabila ia merasakan perlunya melakukan hal tersebut, karena dengan mempelajari sesuatu itu ia dapat memecahkan masalahnya atau dapat menyelesaikan tugasnya sehari-hari dengan baik. Fungsi pendidik di sini adalah menciptakan kondisi, menyiapkan alat serta prosedur untuk membantu mereka menemukan apa yang perlu mereka ketahui. Dengan demikian program belajar harus disusun sesuai dengan kebutuhan kehidupan mereka yang sebenarnya dan urutan-urutan penyajian harus disesuaikan dengan kesiapan peserta didik.

4 Orientasi belajar Peserta didik menyadari bahwa pendidikan adalah suatu proses penyampaian ilmu pengetahuan, dan mereka memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut baru akan bermanfaat di kemudian hari. Oleh karena itu, kurikulum harus disusun sesuai dengan unit-unit mata pelajaran dan mengikuti urutan-urutan logis ilmu tersebut , misalnya dari kuno ke modern atau dari yang mudah ke sulit. Dengan demikian, orientasi belajar ke arah mata pelajaran. Artinya jadwal disusun berdasarkan keterselesaian nya mata-mata pelajaran yang telah ditetapkan. Peserta didik menyadari bahwa pendidikan merupakan suatu proses peningkatan pengembangan kemampuan diri untuk mengembangkan potensi yang maksimal dalam hidupnya. Mereka ingin mampu menerapkan ilmu dan keterampilan yang diperolehnya hari ini untuk mencapai kehidupan yang lebih baik atau lebih efektif untuk hari esok. Berdasarkan hal tersebut di atas, belajar harus disusun ke arah pengelompokan pengembangan kemampuan. Dengan demikian orientasi belajar terpusat kepada kegiatannya. Dengan kata lain, cara menyusun pelajaran berdasarkan kemampuan-kemampuan apa atau penampilan yang bagaimana yang diharap kan ada pada peserta didik.
Sumber: Tamat (1985: hal. 20-22)

Keunggulan dan Kelemahan Teori Belajar Andragogi

Kegiatan pendidikan baik melalui jalur sekolah ataupun luar sekolah memiliki daerah dan kegiatan yang beraneka ragam. Pendidikan orang dewasa terutama pendidikan masyarakat bersifat non formal sebagian besar dari siswa atau pesertanya adalah orang dewasa, atau paling tidak pemuda atau remaja. Oleh sebab itu, kegiatan pendidikan memerlukan pendekatan tersendiri. Dengan menggunakan teori andragogi kegiatan atau usaha pembelajaran orang dewasa dalam kerangka pembangunan atau realisasi pencapaian cita-cita pendidikan seumur hidup dapat diperoleh dengan dukungan konsep teoritik atau penggunaan teknologi yang dapat dipertanggung jawabkan.
Andragogy memiliki kelemahan, salah satunya adalah bahwa bagaimana mungkin seorang siswa yang tidak terlalu memahami tentang luasnya ilmu kemudian dibebaskan memilih apa yang mereka sukai? Seolah sistem Andragogy hanya sebagai suatu sistem yang mengembirakan siswanya saja dan melupakan untuk tujuan apa sebenarnya sebuah pendidikan itu dilakukan? Dan bagaimana pula bisa dilakukan -penjagaan terhadap ilmu-ilmu yang sudah ada? jika sebuah ilmu tersebut tidak diminati oleh siswa, tentu saja satu waktu ilmu tersebut akan hilang. Dan bagaimana siswa dibiarkan memilih jika ada persyaratan kemampuan yang memang mesti dimiliki seandainya siswa mau belajar ilmu tertentu. Tak mungkinlah siswa SD dibiarkan memilih mata pelaharan Integral Diferensial sebelum mereka menguasai dulu perkalian, jumlah, kurang bagi, dll.

http://www.oocities.org/teknologipembelajaran/andragogi.html



Berdasarkan uraian sebelumnya, telah dikemukakan bahwa orang dewasa yang datang pada suatu pertemuan/kegiatan belajar telah memiliki konsep diri dan membawa pengalaman-pengalaman masa lampau. Hal ini akan mewarnai orang dewasa dalam setiap aspek kegiatan belajar yang dilaksanakannya.
Para pengelola dan pelaksana pada pendidikan orang dewasa dalam membelajarkan mereka perlu memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Hal itu akan dapat memudahkan kita menolong mereka dalam mengarahkan mereka sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan dan diharapkannya. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut.
a. Problem Centered
Pembelajaran harus berpusat pada masalah yang dihadapi warga belajar/orang dewasa. Masalah adalah kesenjangan antara yang diinginkan dengan kenyataan yang ada. Masalah yang ada tersebut perlu dicarikan pemecahannya. Dalam membelajarkan orang dewasa belajar selalu dipusatkan pada masalah. Seorang pembimbing/fasilitator dan tutor harus dapat merangsang mereka untuk belajar. Pembimbing tersebut juga harus dapat meyakinkan orang dewasa bahwa yang akan dipelajari itu merupakan suatu masalah yang menyangkut tentang dirinya.
Kenapa dalam membelajarkan orang dewasa selalu dipusatkan pada masalah (problem centered). Alasannya adalah orang dewasa akan mau belajar kalau dia menemui masalah. Dengan demikian mereka akan belajar karena yang dipelajarinya itu mempunyai manfaat baginya dan mereka merasa perlu untuk menghadapi masalah yang dihadapinya, misalnya petani tradisional akan belajar kalau ada masalah, seperti hasil ladangnya yang tidak memenuhi kebutuhan sehingga mereka ingin belajar bagaimana cara meningkatkan hasil pertanian.
b. Fungsional
Dalam proses belajar orang dewasa, hendaknya apa yang dipelajari itu mempunyai arti atau mempunyai fungsi untuk warga belajar, sebab orang dewasa akan mau belajar apabila yang dipelajari ada manfaat bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebelum memberikan pendidikan kepada warga belajar, seorang pembimbing tutor, fasilitatorharus melakukan identifikasi kebutuhan warga belajar. Seandainya kita memberikan pendidikan kepada masyarakat nelayan, maka pembimbing harus memberikan pendidikan tentang teknik penangkapan ikan yang baik, sehingga dapat diperoleh hasil yang memadai.
c. Experience Centered/Berpusat pada Pengalaman
Pemusatan pelajaran pada pengalaman. Maksudnya di sini bahwa dalam membelajarkan haruslah dipusatkan kepada pengalaman warga belajar. Pengalaman-pengalaman WB dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar. Oleh sebab itu, di dalam proses interaksi belajar orang dewasa, merekalah yang semestinya banyak berbuat. Dengan kata lain, warga belajar dilibatkan dalam proses belajar, karena dengan keterlibatan tersebut maka mereka akan merasa bertanggungjawab. Apabila pelajaran yang diberikan didasarkan pada pengalaman mereka, maka secara otomatis mereka akan tertarik untuk belajar, karena yang dipelajari berhubungan dengan keinginan mereka.
d. Merumuskan Tujuan
Dalam kegiatan belajar orang dewasa, mereka dilibatkan sejak dari awal sampai dengan berakhirnya kegiatan belajar. Warga belajar ikut menentukan sendiri apa yang akan dipelajarinya, merumuskan tujuan yang akan dicapai, dan melaksanakan kegiatan belajarnya. Dengan melibatkan mereka sejak dari awal sampai akhir maka diharapkan hasil belajar akan dapat dicapai dengan baik.
e. Feed Back (Balikan)
Umpan balik di sini artinya warga belajar mengetahui hasil belajar yang telah dicapainya. Apabila mereka telah mengetahui hasil belajarnya, maka warga belajar diharapkan dapat meningkatkan kegiatannya ke arah perbaikan cara belajarnya. Warga belajar harus tahu sampai dimana proses belajar itu telah dilaluinya.
Penilaian dalam proses belajar sangat diperlukan, warga belajar harus mendapatkan umpan balik dari proses belajarnya. Sampai dimana kemampuan mereka dalam belajar, sampai dimana pelajarandapat dicapai dan dikuasai. Apakah pelajaran tersebut dapat merubah cara ke arah perbaikan diri sendiri, dan apakah belajar dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan adanya umpan balik tersebut akan sangat menentukan kegiatan belajar selanjutnya.
Selanjutnya, Miller mengidentifikasikan enam kondisi yang prinsip bagi keberhasilan orang dewasa dalam belajar, yaitu:
1) Warga belajar orang dewasa harus dimotivasi agar berubah tingkah lakunya,
2) Warga belajar harus disadarkan akan ketidakmampuannya untuk berperilaku,
3) Warga belajar harus memiliki gambaran yang jelas terhadap tingkah laku yang diajukan,
4) Warga belajar harus diberi kesempatan untuk mempraktekkan tingkah laku yang diinginkan,
5) Warga belajar harus mendapat dukungan atas tindakannya yang benar, dan
6) Warga belajar harus memiliki serangkaian materi yang tepat untuk dipraktekkan.

Kebutuhan Belajar Orang Dewasa.

Pendidikan orang dewasa dapat. diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengem-bangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonoini, dan teknologi secara bebas, seimbang dan berkesinambungan.
Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajamya. Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta kegiatan pendidikan/pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar yang harus disediakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode apa yang cocok digunakan. Menurut Lunandi (1987) yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa yang dipetajari pelajar, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir yang dinilai adalah apa yang diperoleh orang dewasa dan pertemuan pendidikan/pelatihan, bukan apa yang dilalukukan pengajar, pelatih atau penceramah dalam pertemuannya.
Menurut Vemer dan Davidson dalam Lunandi (1987) ada enam faktor yang secara psikologis dapat menghambat keikutsertaan orang dewasa dalam suatu program pendidikan:
1. Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglilhatan atau titik terdekat yang dapat dilihat secara jelas mulai hergerak makin jauh. Pada usia dua puluh tahun seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya. Sekitar usia empat puluh fahun titik dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23 cm.
2. Dengan bertambahnya usia, titik jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat dilihat secara jelas mulai berkurang, yakni makin pendek. Kedua faktor ini perlu diperhatikan dalam pengadaan dan penggunaan bahan dan alat pendidikan.
3. Makin bertambah usia, makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu situasi belajar. Kalau seseorang pada usia 20 tahun memerlukan 100 Watt cahaya1 maka pada usia 40 tahun diperlukan 145 Watt, dan pada usia 70 tahun seterang 300 Watt baru cukup untuk dapat melihat dengan jelas.
4. Makin bertambah usia, persepsi kontras warna cenderung ke arah merah daripada spektrum. Hal ini disebabkan oleh menguningnya komea atau lensa mata, sehingga cahaya yang masuk agak terasing. Akibatnya ialah kurang dapat dibedakannya warna-warna lenmbut. Untuk jelasnya perlu digunakan warna-warna cerah yang kontras untuk alat-alat peraga.
5. Pendengaran atau kemampuan menerima suara mengurang dengan bertambahnya usia. Pada umumnya seseorang mengalami kemunduran dalam kemampuannya membedakan nada secara tajam pada tiap dasawarsa dalam hidupnya. Pria cenderung lebih cepat mundur dalam hal ini daripada wanita. Hanya 11 persen dan orang berusia 20 tahun yang mengalami kurang pendengaran. Sampai 51 persen dan orang yang berusia 70 tahun ditemukan mengalami kurang pendengaran.
6. Pemhedaan bunyi atau kemampuan untuk membedakan bunyi makin mengurang dengan bertambahnya usia. Dengan demikian, bicara orang lain yang terlalu cepat makin sukar ditangkapnya, dan hunyi sampingan dan suara di latar belakangnya bagai menyatu dengan bicara orang. Makin sukar pula membedakan bunyi konsonan seperti t, g, b, c, dan d.



Tujuan Pendidikan Orang Dewasa
Houle (1972), menggambarkan enam orientasi yang dipegang oleh pendidik orang dewasa, yaitu :
1. Memusatkan pada tujuan.
2. Memenuhi kebutuhan dan minat.
3. Menyerupai sekolahan.
4. Menguatkan kepemimpinan.
5. Mengembangkan lembaga pendidikan orang dewasa.
6. Meningkatkan informalisasi.

Bergeivin mengemukakan tujuan pendidikan orang dewasa sebagai berikut :
a. Membantu pelajar mencapai suatu tingkatan kebahagiaan dan makna hidup.
b. Membantu pelajar memahami dirinya sendiri, bakatnya, keterbatasannya dan hubungan interpersonalnya.
c. Membantu mengenali dan memahami kebutuhan lifelong education.
d. Memberikan kondisi dan kesempatan untuk membantu mencapai kemajuan proses pematangan secara spiritual, budaya, fisik, politik dan kejujuran.
e. Memberikan kemampuan melek huruf, keterampilan kejujuran dan kesehatan bagi orang dewasa yang sebelumnya tidak memiliki kesempatan untuk belajar.
Prinsip Belajar Untuk Orang Dewasa Menurut Hommonds , terdapat 4 prinsip belajar yang dapat digunakan untuk mempercepat proses perubahan perilaku pelajar, yaitu :
1. Prinsip latihan (praktik), ketika kita telah menerima materi dan melakukan aktifitas yang konkrit dan juga yang tidak nyata seperti aktifitas penggunaan indera, susunan syaraf dan pusat susunan syaraf. Pelajar akan terdorong untuk mengaplikasikan ilmu yang ia terima sebelumnya. Hal ini akan mempercepat perkembangan dan perubahan kualitas pelajar.

2. Prinsip hubungan, Kejadian atau pengalaman dimasa lampau dapat dijadikan pedoman untuk meramalkan akibat atau hasil yang akan mungkin akan terjadi dari suatu proses. Menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman terdahulu.

3. Prinsip akibat, Dalam pendidikan orang dewasa, emosi, perasaan, lingkungan belajar, hingga pendidik yang memberikan materi sangat mempengaruhi keberhasilan atau tidak tercapainya keberhasilan dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu, sangat diperlukan pendidik yang peka terhadap kepuasan pelajar yang berkaitan dengan segala hal yang berkaitan dengan proses belajar pendidikan orang dewasa. Dengan adanya kepuasan diharapkan pelajar dapat mencapai keberhasilan dan tujuan pembelajaran.

4. Prinsip kesiapan, Kesiapan diri pelajar akan menentukan manfaat yang dapat diperoleh dari proses belajar. Baik fisik maupun mental pembelajar sangat mempengaruhi proses pembelajaran. Dengan adanya kesiapan mental dan fisik diharapkan pelajar dapat mencurahkan seluruh perhatiannya pada materi yang sedang dihadapi. Dengan demikian diharapkan, pelajar dapat memaksimalkan usaha pencapaian dan dapat mengatasi rintangan belajar, agar dapat berprestasi.

Pendidikan orang dewasa dapat. diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengem-bangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonoini, dan teknologi secara bebas, seimbang dan berkesinambungan.
Dalam hal ini, terlihat adanya tekanan rangkap bagi perwujudan yang ingin dikembangankan dalam aktivitas kegiatan di lapangan, pertama untuk mewujudkan pencapaian perkemhangan setiap individu, dan kedua untuk mewujudkan peningkatan keterlibatannya (partisipasinya) dalam aktivitas sosial dan setiap individu yang bersangkutan. Begitu pula pula, bahwa pendidikan orang dewasa mencakup segala aspek pengalaman belajar yang diperlukan oleh orang dewasa baik pria maupun wania, sesuai dengan bidang keahlian dan kemampuannya masing-masing.
Dengan demikian hal tersebut dapat berdampak positif terhadap keberhasilan pembelajaran orang dewasa yang tampak pada adanya perubahan perilaku ke arah pemenuhan pencapaian kemampuan/keterampilan yang memadai. Di sini, setiap individu yang berhadapan dengan individu lain akan dapat belajar hersama dengan penuh keyakinan. Perubahan perilaku dalam hal kerjasama dalam berbagai kegiatan, merupakan hasil dan adanya perubahan setelah adanya proses belajar, yakni proses perubahan sikap yang tadinya tidak percaya diri menjadi peruhahan kepercayaan diri secara penuh dengan menambah pengetahuan atau keterampilannya.
Perubahan penilaku terjadi karena adanya perubahan (penambahan) pengetahuan atau keterampilan serta adanya perubalian sikap mental yang sangat jelas, dalam hal pendidikan orang dewasa tidak cukup hanya dengan memberi tambahan pengetahuan, tetapi harus dihekali juga dengan rasa percaya yang kuat dalam prihadiriya. Pertambahan pengetahuan saja tanpa kepercayaan diri yang kuat, niscaya mampu melahirkan perubahan ke arah positif herupa adanya pembaharuan baik fisik maupun mental secara nyata, menyeluruh dan berkesinambungam
Perubahan perilaku bagi orang dewasa terjadi melalui adanya proses pendidikan yang berkaitan dengan perkembangan dirinya sebagai individu, dan dalam hal ini, sangat memungkinkan adanya partisipasi dalam kehidupan sosial untuk meningkatkan kesejahteraan diri sendiri, maupun kesejahteraan bagi orang lain, disehabkan produktivitas yang lebih meningkat. Bagi orang dewasa pemenuhan kebutuhannya sangat mendasar, sehingga setelah kebutuhan itu terpenuhi ia dapat beralih kearah usaha pemenuhan kebutuhan lain yang lebih diperlukannya sebagai penyempumaan hidupnya.
Setiap individu wajib terpenuhi kebutuhannya yang paling dasar (sandang dan pangan), sebelum ia mampu merasakan kehutuhan yang lebih tinggi sebagai penyempumaan kebutuhan dasar tadi, yakni kehutuhan keamanan, penghargaan, harga diri, dan aktualisasi dirinya. Bilamana kebutuhan paling dasar yakni kebutuhan fisik berupa sandang, pangan, dan papan belum terpenuhi, maka setiap individu belum membutuhkan atau merasakan apa yang dinamakan sebagai harga diri. Setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi, maka setiap individu perlu rasa aman jauh dan rasa takut, kecemasan, dan kekhawatiran akan keselamatan dirinya, sebab ketidakamanan hanya akan melahirkan kecemasan yang herkepanjangan. Kemudian kalau rasa aman telah terpenuhi, maka setiap individu butuh penghargaan terhadap hak azasi dirinya yang diakui oleh setiap individu di luar dirinya. Jika kesemuanya itu terpenuhi barulah individu itu merasakan mempunyai harga diri.
Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajamya. Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta kegiatan pendidikan/pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar yang harus disediakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode apa yang cocok digunakan. Menurut Lunandi (1987) yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa yang dipetajari pelajar, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir yang dinilai adalah apa yang diperoleh orang dewasa dan pertemuan pendidikan/pelatihan, bukan apa yang dilalukukan pengajar, pelatih atau penceramah dalam pertemuannya.

Read more: Kebutuhan Belajar Orang Dewasa | Smart Click

http://08113ruthlingga.blogspot.com/2010/02/pengertian-tujuandan-pertimbagan.html

http://www.g-excess.com/600/kebutuhan-belajar-orang-dewasa/



{September 9, 2012}   PENDEKATAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Pengertian Pendekatan Pembelajaran
Mendefinisikan pendekatan pembelajaran perlu dipahami arti dan masing-masing kalimat tersebut Depdikbud (1990: 180) pendekatan dapat diartikan, “sebagai proses, perbuatan, atau cara untuk mendekati sesuatu”. Menurut Suharno, Sukardi, Chodijah dan Suwalni (1998: 25) bahwa, “pendekatan pembelajaran diartikan model pembelajaran”. Sedangkan pembelajaran menuzut H.J. Gino dkk. (1998:32) bahwa, “pembelajaran atau intruction merupakan usaha sadar dan disengaja oleh guru untuk membuat siswa belajar dengan tujuan mengaktifkan faktor intern dan faktor ekstern dalam kegiatan belajar mengajar”. Sukintaka (2004: 55) bahwa, “pembelajaran mengandung pengertian, bagaimana para guru mengajarkan sesuatu kepada peserta didik, tetapi di samping itu juga terjadi peristiwa bagaimana peserta didik mempelajarinya”.

Berdasarkan pengertian pendekatan dan pembelajaran tersebut dapat disimpulkan bahwa, pendekatan pembelajaran merupakan cara kerja mempunyai sistem untuk memudahkan pelaksanaan proses pembelajaran dan membelajarkan siswa guna membantu dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini sesuai pendapat Wahjoedi (1999 121) bahwa, “pendekatan pembelajaran adalah cara mengelola kegiatan belajar dan perilaku siswa agar ia dapat aktif melakukan tugas belajar sehingga dapat memperoleh hasil belajar secara optimal”. Menurut Syaifuddin Sagala (2005: 68) bahwa, “Pendekatan pembelajaran merupakan jalan yang akan ditcmpuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional untuk suatu satuan instruksional tertentu”.

Tujuan pembelajaran dapat dicapai maka perlu dibuat program pembelajaran yang baik dan benar. Program pembelajaran merupakan macam kegiatan yang menjabarkan kemampuan dasar dan teori pokok secara rinci yang memuat metode pembelajaran, alokasi waktu, indikator pencapaian hasil belajar dan langkah-langkah kegiatan pembelajaran dari setip pokok mata pelajaran. Sistem dan pendekatan pembelajaran dibuat karena adanya kebutuhan akan sistem dan pendekatan tersebut untuk meyakinkan yaitu adanya kebutuhan untuk belajar dan siswa belum.
mengetahui apa yang akan diajarkan. Oleh karena itu, guru menetapkan hasil-hasil belajar atau tujuan apa yang diharapkan akandicapai

Artikel Asli Mari Berkawand Berjudul: Pengertian Pendekatan Pembelajaran | Mari Berkawand
Ciptakan imajinasimu http://www.mari-berkawand.blogspot.com
http://mari-berkawand.blogspot.com/2011/03/pengertian-pendekatan-pembelajaran.html

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).
http://mbahbrata-edu.blogspot.com/2009/12/pengertian-pendekatan-strategi-metode.html

PENDEKATAN PENDIDIKAN ORANG DEWASA

Pendidikan dan Kehidupan
Pendidikan yang dipahami sebagai persiapan untuk memasuki tahap kehidupan melalui proses belajar yang berlangsung seperti dalam lingkaran yang tidak jelas ujung pangkalnya, merupakan kegiatan yang tidak menyenangkan, bahkan lebih merupakan suatu beban yang harus dipikul dan mengarah pada tiadanya kepuasan, kepedihan dan penuh rasa sakit yang ditandai dengan berbagai kesulitan dalam membaca buku-buku serius yang sulit dipahami, membiasakan diri dalam mengunakan istilah-istilah profesi tertentu dan terpengaruh oleh cemoohan tentang cendekiawan, singkatnya orang yang sedang melakukan proses belajar seperti itu akan menjadi orang dewasa yang menggenggam ”kantong pendidikan” yang berisi suatu permainan belajar yang diperoleh lama sejak ia tergelincir di dalamnya. Seringkali lulusan pendidikan seperti ini digambarkan dalam karikatur yang menyedihkan berupa sosok yang terlindung dalam jubah/toga, memegang ijazah dan berdesis bahwa ia adalah orang terdidik.
Penambahan jumlah fasilitas pendidikan tidak dapat memecahkan masalah pendidikan yang berlangsung dalam lingkaran tersebut, hasilnya sering mengecewakan, hanya berujung pada keberhasilan formalisasi, mekanisasi dan pemrosesan pendidikan. Untuk itu diperlukan konsep-konsep, alasan/penggerak dan metode-metode baru, serta melakukan eksperimen dalam aspek-aspek kualitatif pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, dari berbagai penjuru datang keinginan tentang suatu jenis pendidikan baru yang mulai menegaskan bahwa pendidikan dalam kehidupan bukan hanya persiapan untuk memasuki kehidupan pada masa mendatang yang tidak jelas diketahui. Konsekuensinya adalah semua konsep pendidikan statis yang menekankan pendidikan pada masa muda harus diabaikan, konsep penggantinya adalah pendidikan seumur hidup, sehingga pendidikan tidak pernah berakhir – hal tersebut disebut sebagai pendidikan orang dewasa. Selanjutnya, pendidikan dipahami sebagai proses dalam putaran kehidupan tentang cita-cita non kejuruan. Dalam dunia spesialis, setiap orang perlu belajar tentang bagaimana melakukan pekerjaannya, dan jika pendidikan dalam berbagai jenisnya dapat membantu proses tersebut, serta lebih lanjut membantu pekerja untuk melihat makna dari pekerjaannya, maka pendidikan tersebut berada dalam tingkatan yang tinggi, tetapi pendidikan orang dewasa lebih tepat mulai diterapkan pada saat pendidikan kejuruan telah ditinggalkan.

Subyek versus Situasi
Pendekatan pendidikan orang dewasa dilakukan melalui situasi, bukan subjek. Dalam pendidikan konvensional, para pelajar perlu melakukan menyesuaikan dirinya terhadap kurikulum yang telah mapan dan materi belajar yang ditentukan terlebih dahulu (subject matter centered orientation), sedangkan dalam pendidikan orang dewasa, kurikulum dibangun berdasarkan kebutuhan dan minat pelajar. Hal ini karena setiap orang dewasa berada dalam situasi spesifik dengan penghargaannya terhadap pekerjaan, hiburan, kehidupan keluarga, kehidupan masyarakat dan lainnya, sehingga situasilah yang menjadi alasan untuk melakukan penyesuaian. Dari situasi ini pendidikan orang dewasa dimulai, sedangkan mata pelajaran dibawa masuk ke dalam situasi ini, dan diletakkan dalam kerangka pekerjaan apabila diperlukan. Buku pelajaran dan guru memainkan peran baru dan bersifat sekunder dalam pendidikan jenis ini, mereka harus mengutamakan pentingnya pelajar. Bahkan dalam pendidikan ini, guru dalam pendidikan orang dewasa juga merupakan pelajar. Pendekatan situasi dalam pendidikan berarti bahwa proses belajar berlangsung dalam setting realitas, sedangkan performa intelegensi merupakan fungsi dari hubungan terhadap keadaan sesungguhnya, bukan abstraksi. Orang dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.
Orientasi terhadap situasi ini dipengaruhi oleh perspektif waktu. Pada andragogi, konsep perspektif waktu yang dipakai adalah “pendidikan adalah berbuat untuk sekarang”, yang diartikan sebagai pengembangan kemampuan untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya sekarang. Kemampuan tersebut dipergunakan untuk memecahkan masalah, menjawab tantangan dan menghadapi kendala yang selalu dijumpai dalam hidup. Kemampuan pada manusia akan muncul sebagai besar melalui proses belajar. Belajar pada andragogi berpusat kepada “persoalan”, sehingga belajar diartikan sebagai suatu proses untuk menemukan persoalan dan memecahkan persoalan pada waktu sekarang. Dengan andragogi kita akan menemukan suatu situasi yang akan diperbaiki, tujuan-tujuan yang diiinginkan, pengalaman-pengalaman untuk perbaikan, dan kemungkinan tindakan-tindakan untuk perbaikan situasi sekarang. sumber dari nilai tertinggi dalam pendidikan orang dewasa adalah pengalaman pelajar yang ia peroleh dari kehidupannya, dan bukan dari pengalaman orang lain yang disubstitusikan seolah-olah menjadi pengalaman dirinya, dengan demikian pengalaman merupakan textbook kehidupan pelajar dewasa. Dengan mempelajari pengalamannya, seseorang akan merasa senang dalam menemukan makna dari suatu kejadian dimana ia terlibat di dalamnya. Pengalaman tersebut diperoleh dari hasil interaksi antara potensi yang dibawa sejak lahir (hereditas) dengan pendidikan dan lingkungan. Dalam proses pendidikan orang dewasa, orang yang belajar mempunyai pengalaman-pengalaman tentang apa yang diajarkan. Dalam proses pembelajaran ini, pengalaman adalah guru yang baik untuk saling dipertukarkan diantara warga belajar, untuk mendapatkan hasil belajar yang dapat diaplikasikan oleh seluruh warga belajar dalam situasinya sendiri-sendiri. Mengajar orang dewasa adalah membantu warga belajar untuk berinteraksi dengan sesamanya, pengajar bertindak sebagai fasilitator yang membantu terjadinya interaksi tersebut.

Guru versus Nara Sumber
Peran guru lebih banyak digunakan dalam pendidikan anak (pedagogi) yang berorientasi pada materi belajar (subject matter centered orientation), dan memandang bahwa pelajar merupakan suatu wadah yang perlu diisi dengan pengetahuan melalui cara transmisi. Dalam kondisi ini peran guru menjadi sangat dominan dan aktif dalam proses belajar, sedangkan pelajar merupakan pihak yang pasif dan menerima. Paulo Freire menyebut pendidikan ini sebagai banking system, dimana guru mentransfer materi belajar kepada muridnya dengan keyakinan bahwa materi tersebut akan berkembang dan bermanfaat bagi penerimanya. Implikasi dari peran guru tersebut dalam proses belajar adalah :
– Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku;
– penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda & teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran;
– pengembangan rencana dan bentuk urutan (sequence) yang standard dan kaku;
– adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan;
– adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam “menyelesaikan” suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan.
Peran guru terkait dengan asumsi bahwa pelajar adalah personal yang seragam, umum dan statis, sehingga guru melakukan pembelajaran terhadap pelajarnya dalam cara:
– Otokratik;
– menerapkan value yang sama bagi setiap murid.
– mengajar dengan menggunakan metode ortodok (terbiasa) dan teratur;
– mengajar materi yang telah ditentukan terlebih dahulu.;
– mengajar dalam kelas dengan jumlah murid yang banyak;
– mengharuskan murid untuk lulus dalam ujian yang sama bagi setiap orang;
Dalam pendidikan orang dewasa lebih tepat menggunakan peran nara sumber atau fasilitator yang bermakna sebagai pihak yang membantu dan memberikan kemudahan bagi pelajar dalam melakukan proses belajar. Peran ini dilandasi oleh asumsi bahwa setiap pelajar mempunyai kepribadian yang unik – tidak generalized, termasuk di dalamnya mempunyai kemampuan belajar yang berbeda. Dalam proses belajar orang dewasa, nara sumber perlu memperhatikan hal-hal berikut:
– Tujuan belajar harus disesuaikan dengan keinginan, kebutuhan, minat dan harapan pelajar;
– orang dewasa mempunyai kemampuan untuk mengubah kebiasaan buruk, dan tekun dalam belajar;
– orang dewasa adalah orang yang mempunyai kemampuan intelegen, mempunyai kekuasaan, kebebasan, persahabatan, kreativitas, penghargaan, kesenangan, ekspresi diri;
– orang dewasa menginginkan pengalamannya bermakna dan menggairahkan bagi dirinya dan orang lain;
– orang dewasa ingin bakatnya berguna, ingin tahu tentang sesuatu yang baik dan menyenangkan, serta berbagi realisasi kepribadian dalam komunitas yang bersahabat.
Dalam pendidikan orang dewasa, nara sumber harus melakukan hal-hal berikut:
1. Menciptakan iklim belajar yang kondusif
a. Pengaturan lingkungan fisik
Pengaturan lingkungan fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman, nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
– Penataan dan peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa.
– Alat peraga dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik orang dewasa.
– Penataan ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan terjadinya interaksi sosial.
b. Pengaturan lingkungan sosial dan psikologis
Iklim psikologis hendaknya merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai dan didukung.
– Nara sumber lebih bersifat membantu dan mendukung.
– Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan bina suasana dan berbagai permainan yang sesuai.
– Menciptakan suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut.
– Mengembangkan semangat kebersamaan.
– Menyusun kontrak belajar yang disepakati bersama
2. Diagnosis Kebutuhan Belajar
Dalam andragogi tekanan lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
– Melibatkan seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak langsung atas kegiatan itu.
– Membangun dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan.
– Menyediakan berbagai pengalaman yang dibutuhkan
– Lakukan perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan kompetensi tertentu
3. Proses Perencanaan
Dalam perencanaan pendidikan hendaknya melibatkan semua pihak terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan tersebut. Tampaknya ada suatu “hukum” atau setidak tidaknya suatu kecenderungan dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa ‘committed’ terhadap suatu keputusan apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
– Libatkan peserta untuk menyusun rencana pendidikan, baik yang menyangkut penentuan materi pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain.
– Temuilah dan diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut kegiatan tersebut.
– Terjemahkan kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan dan ke dalam materi pendidikan.
– Tentukan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa melakukan apa dan kapan.
4. Memformulasikan Tujuan
Setelah menganalisis hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut di atas.
5. Mengembangkan Model Umum
Ini merupakan aspek seni dan arsitektural dari perencanaan pendidikan dimana harus disusun secara harmonis antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar, kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan waktu yang sesuai.
6. Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran
Dalam menetapkan materi dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
– Materi pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman nyata dari peserta pelatihan.
– Materi belajar hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi praktis.
– Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan pengetahuan dari fasilitator kepada peserta
– Metoda dan teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat partisipatif.
7. Peranan Evaluasi
Pendekatan evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
– Evaluasi hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti proses pembelajaran.
– Sebaiknya evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta belajar itu sendiri (self evaluation).
– Perubahan positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan.
– Ruang lingkup materi evaluasi “ditetapkan bersama secara partisipatif” atau berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat.
– Evaluasi ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program.
– Menilai efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan perilaku.

http://teomokole.blogspot.com/2010/10/pendekatan-pendidikan-orang-dewasa.html



{September 9, 2012}   TEORI-TEORI BELAJAR

1. Teori Behaviorisme
Sebagaimana telah dikemukakan pada Bab II bahwa behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek – aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu.
2. Teori Belajar Kognitif menurut Piaget
Dalam bab sebelumnya telah dikemukan tentang aspek aspek perkembangan kognitif menurut Piaget yaitu tahap (1) sensory motor; (2) pre operational; (3) concrete operational dan (4) formal operational. Menurut Piaget, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
3. Teori Pemrosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Teori belajar Humanistik memandang bahwa:
– Fokus utamanya adalah hasil pendidikan yang bersifat afektif, belajar tentang cara- cara belajar dan meningkatkan kreativitas dan semua potensi peserta didik.
– Hasil belajarnya adalah kemampuan peserta didik mengambil tanggung jawab dalam menentukan apa yang dipelajari dan menjadi individu yang mampu mengarahkan diri sendiri dan mandiri.
– Pentingnya pendekatan pendidikan di bidang seni dan hasrat ingin tahu.
– Pendekatan humanistik kurang menekankan pada kurikulum standar, perencanaan pembelajaran, ujian, sertifikasi pendidik dan kewajiban hadir di sekolah.
– Pendekatan humanistik mengkombinasikan metode pembelajaran individual dan kelompok. Pendidik memiliki status kesetaraan dengan peserta didik.
– Pendekatan humanistik memelihara kebebasan peserta didik untuk tumbuh dan melindungi peserta didik dari tekanan keluarga dan masyarakat.
– Penggunaan pendekatan humanistik dalam pendidikan akan memungkinkan peserta didik menjadi individu yang beraktualisasi diri.

Gaya belajar

1. Akomodator
adalah orang-orang yang belajar dengan melakukan dan merasakan, orang-orang ini cenderung belajar dengan menggunakan pengalaman pribadi, bertindak sesuai dengan perasaan dengan menomorduakan logika, sangat senang dengan pengalaman baru dan bertindak dalam aspek pelaksanaan kegiatan.

2. Diverger
adalah orang-orang yang belajar dengan mengamati dan perasaan, orang-orang ini sangat suka berbagi pendapat, sulit menganalisa beberapa alternatif, suka mengumpulkan informasi dan cenderung memiliki minat budaya yang luas.

3. Asimilator
adalah orang-orang yang belajar dengan mengamati dan berfikir, orang-orang ini umumnya logis dan sistematik, menyukai gagasan-gagasan dan teori daripada yang praktis, menyukai gagasan abstrak dan idealistik

4. Konverger
Adalah orang-orang yang belajar dengan melakukan dan berfikir, orang-orang ini biasanya menyukai hal-hal yang praktis dan jeli dalam melihat pemecahan masalah, menyukai masalah-masalah teknis, dan sistematis dalam membuat pemecahanny

Cara belajar

Para pakar pendidikan dan pelatihan berpendapat bahwa cara belajar orang dewasa berbeda dengan cara belajar anak-anak. Perbedaan ini harus sangat diperhatikan dalam mengembangkan dan merancang program pelatihan untuk orang dewasa. Prisip-prinsip belajar orang dewasa pada dasarnya berbeda dengan prinsip-prinsip belajar anak-anak dalam aspek-aspek sbb:

1. Konsep diri. Salah satu perbedaan utama anatar anak-anak dan orang dewasa dalam belajar adalah bahwa anak-anak masih merasa diri mereka sebagai dependent, yaitu tergantug pada orang tua dan guru.Sebaliknya orang dewasa akan merasa tersinggung apabila diperlakukan sebagai murid dengan cara yang kurang menghargai, merendahkan, atau cara lain yang menyamakan dia seperti anak-anak.
2. Pengalaman. Orang dewasa telah mengumpulkan pengalaman yang cukup banyak dalam hidup mereka, baik dari pekerjaan maupun dari kegiatan lain. Dengan demikian mereka mampu juga menentukan apa yang harus diajarkan dan dalam bentuk atau format seperti apa.
3. Kesiapan untuk belajar. Dalam pendidikan anak-anak, guru atau sekolah menentukan apa yang harus diajarkan pada murid baik dalah hal isi maupun urutannya. Dalam kasus orang dewasa, mereka juga dapat memilih apa yang masih mereka butuhkan dan bagaimana seharusnya urutan belajarnya. Dalam situasi ini, pelatih harus memposisikan dirinya sebagai “nara sumber” yang membantu peserta dewasa untuk melakukan diagnosa kebutuhan mereka sendiri.
4. Perpestik Waktu. Dalam pendidikan anak, murid diharapkan untuk dapat menyimpan “informasi” sebanyak mungkin yang akan digunakan “pada suatu hari nanti” yang mungkin dua belas sampai limabelas tahun lagi. Sebaliknya orang dewasa lebih tertarik untuk memperoleh hal-hal baru yang bisa diterapkan segera, baik untuk memecahkan masalah maupun untuk meningkatkan kinerja sendiri.

Sumber:
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2163493-karakteristik-cara-belajar-orang-dewasa/#ixzz1YImiqOCX



Pemimpin formal ialah seseorang yang oleh organisasi tertentu dipilih sebagai pemimpin, berdasarkan keputusan dan pengangkatan resmi untuk memegang suatu jabatan dalam struktur organisasi, dengan segala hak dan kewajiban yang berkaitan dengannya, untuk mencapai sasaran organisasi yang telah ditetapkan.
Ciri-ciri pemimpin formal yaitu :
a. Berstatus sebagai pemimpin formal atau resmi (disahkan dan diangkat) selama masa jabatan tertentu, atas dasar legalitas formal oleh penunjukan pihak yang berwenang, ada legitimitas.
b. Sebelum pengangkatan , harus memenuhi beberapa persyaratan formal terlebih dahulu.
c. Diberi dukungan oleh organisasi formal untuk menjalankan tugas kewajibannya.
d. Bisa mencapai promosi atau kenaikan pangkat formal, dan dapat dimutasikan.
e. Bila melakukan kesalahan-kesalahan, akan dikenai sanksi dan hukuman.
Pemimpin formal pada dasarnya harus menempatkan, jiwa dan perilakunya untuk menjaga citra kepemimpinannya dalam meningkatkan kepercayaan masyarakat yang dipimpinnya. Efektifitas dan efisiensinya seorang pemimpin formal adalah dengan mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongannya dalam rangka mencapai tujuan yang di cita-citakan bersama. Pemimpin formal setiap saat dapat dihindari atau tidak dipercaya oleh masyarakat karena arah kebijakan dan keputusan serta program kerjanya selalu merugikan masyarakat yang dipimpinnya.
Peranan seorang pemimpin formal dalam penyuluhan pembangunan dapat merupakan motivator untuk pengembangan pembangunan pertanian melalui visi dan misi yang dibawa oleh agen pembaruan/penyuluh dalam membentuk perilaku SDM-klien kearah yang lebih maju dan moderen agar mereka mampu menggunakan/mengaplikasikan IPTEK sesuai dengan tujuan dari usahatani atau bisnisnya.

Pemimpin informal ialah orang yang tidak mendapatkan pangkatformal sebagai pemimpin, namun karena memiliki sejumlah kualitas unggul, dia mencapai kedudukan sebagai orang yang mampu mempengaruhi kondisi psikis dan perilaku suatu kelompok.
Ciri-ciri pemimpin informal yaitu :
a. Tidak memiliki penunjukan formal atau legitimitas sebagai pemimpin.
b. Masyarakat menunjuk dirinya, dan mengakuinya sebagai pemimpin.
c. Status kepemimpinannya berlangsung selama kelompok yang bersangkutan masih mau mengakui dan menerima dirinya.
d. Tidak dapat dimutasikan.
e. Tidak pernah mencapai promosi.
f. Tidak memiliki atasan.
Pemimpin informal dapat saja mempunyai dampak negatif maupun positif terhadap pengikutnya ataupun kelompoknya. Dampak positif seorang pemimpin informal adalah lebih mengutamakan ideologi dan realisasi tujuan rencana kerja daripada tujuan pribadinya, sedangkan dampak negatif dari seorang pemimpin informal adalah mementingkan tujuan dirinya sendiri daripada ideologi-ideologi kelompoknya atau pengikutnya. Seringkali ideologi digunakan untuk memperoleh kekuasaan dan setelah kekuasaan itu didapatnya, maka ideologi itu ditinggalkan atau diubah sesuai dengan tujuan pribadinya sendiri.
Peranan pemimpin informal dalam penyuluhan pembangunan adalah sebagai tempat bertanya atau shering pendapat ataupun dapat bekerjasama dengan agen pembaruan/penyuluh dalam menyebarluaskan IPTEK dan informasi dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan SDM-klien. Pemimpin informal dapat saja dijadikan sasaran penyuluhan terutama pada tataran penyuluhan secara perorangan, karena biasanya para pemimpin informal ini sangat mengerti dan sangat memahami akan masalah warga masyarakat sehingga agen pembaruan/penyuluh sangat terbantu dengan adanya informasi dari mereka selain agen pembaruan tersebut memberikan informasi kepada pemimpin informal tersebut.

• Pemimpin Formal
– seseorang yang ditunjuk atau ditugaskan secara formal oleh organisasi untuk memimpin orang-orang dalam melakukan suatu pekerjaan
• Pemimpin Informal
– seseorang yang secara alamiah dianggap mampu memainkan perannya sebagai pemimpin ketika kelompok kerja telah bekerja dan saling berinteraksi.

Mardikanto (1991 : 216) dan Asngari (2001 : 32), sebagai implementasi dari jiwa dan pengabdian seorang pemimpin formal dan informal, maka dalam proses penyuluhan pembangunan ataupun pemberdayaan kepada SDM-klien selayaknya peran dan fungsi pemimpin dapat berpedoman pada falsafah pendidikan dan kepemimpinan dari Kihajar Dewantara, yang mencakup tiga dimensi yaitu :
1. Ing ngarsa sung tulada, artinya, jika dimuka seorang pemimpin harus mampu menjadikan teladan atau anutan, memiliki idealisme yang kuat, serta mampu menjelaskan cita-citanya kepada para pengikutnya. Peran agen pembaruan/penyuluh dapat memulai dengan memberi informasi/memberikan contoh tentang IPTEK, dan lain-lain yang akan dilaksanakan dalam proses penyuluhan.
2. Ing madya mangun karsa, artinya, jika ditengah seorang pemimpin harus mampu dan mau memahami kehendak anggotanya, merasakan suka-dukanya, dan dapat pula merumuskan kehendak serta keinginan anggotanya untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang direncanakan demi terwujudnya cita-cita atau harapan/keinginan/tujuan yang ditetapkan. SDM-klien dapat bertanya, berdiskusi, serta memberikan tanggapan atas semua IPTEK ataupun informasi, dan lain-lain yang diberikan oleh agen pembaruan/penyuluh.
3. Tut wuri handayani, artinya, jika dibelakang seorang pemimpin mampu mengikuti perkembangan masyarakatnya, serta mampu menjaga agar perkembangan tersebut tidak menyimpang dari nilai-nilai atau norma-norma yang telah diterima oleh masyarakat yang dipimpinnya. Seorang agen pembaruan/penyuluh harus bersifat proses mendidik dan memberikan penjelasan penguasaan materi (IPTEK, dan lain-lain) yang dipelajari sampai IPTEK, dan lain-lain tersebut dikuasai sampai SDM-klien mampu memanfaatkannya.



{September 9, 2012}   KEPEMIMPINAN

Pengertian Kepemimpinan
 Menurut Max Weber, kepemimpinan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan- kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan- tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.
 Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang (yaitu pemimpin atauleader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya). Sehingga orang lain tersebut betingkah laku sebagaimana dikehendaki oleh pemimpin tersebut
Sumber-sumber Kepemimpinan
 Kekuasaan dapat bersumber pada bermacam-macam factor. Apabila sumber- sumber kekuasaan tersebut dikaitkan dengan kegunaannya, maka dapat diperoleh gambarannya sebagai berikut :
Unsur-unsur Kepemimpinan
Kekuasaan yang dapat dijumpai pada interaksi social antara manusia maupun antar kelompok mempunyai beberapa unsur pokok, yaitu :
 Rasa Takut
Perasaan takut pada seseorang (yang merupakan penguasa, misalnya) menimbulkan suatu kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti tadi. Rasa takut merupakan perasaan negative, karena seseorang tunduk kepada orang lain dalam keadaan terpaksa. Orang yang mempunyai rasa takut akan berbuat segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan orang yang ditakutinya, agar terhindar dari kesukaran-kesukaran yang akan menimpa dirinya, seandainya ita tidak patuh. Rasa takut juga menyebabkan orang yang bersangkutan meniru tindakan-tindakan orang yang ditakutinya.
 Rasa Cinta
Rasa cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang pada umumnya positif. Orang-orang lain bertindak sesuai dengan kehendak pihak yang berkuasa, untuk menyenangkan semua pihak. Artinya ada titik pertemuan antara pihak-pihak yang bersangkutan.
 Kepercayaan
Kepercayaan dapat timbul sebagai hasil hubungan langsung antara dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif. Misalnya, si B sebagai orang yang dikuasai mengadakan hubungan langsung dengan si A sebagai pemegang kekuasaan. B percaya sepenuhnya terhadap A, kalau A akan selalu bertindak dan berlaku baik. Dengan demikian, maka setiap keinginan A akan selalu dilaksanakan oleh B. kemungkinan sekali bahwa B sama sekali tidak mengetahui kegunaan tindakan-tindakannya itu. Akan tetapi, karena dia telah menaruh kepercayaan kepada A, maka dia akan berbuat hal-hal Yang sesuai dengan kemauan A yang merupakan penguasa, agar tambah mempercayai. Pada contoh tersebut, hubungan yang terjadi bersifat pribadi, akan tetapi, mungkin saja bahwa hubungan demikian akan berkembang di dalam suatu organisasi atau masyarakat secara luas. Soal kepercayaan memang sangat penting demi berjalannya suatu kekuasaan.
 Pemujaan
System kepercayaan mungkin masih dapat disangkal oleh orang lain. Akan tetapi di dalam system pemujaan, seseorang atau sekelompok orang-orang yang memegang kekuasaan, mempunyai dasar pemujaan dari orang lain. Akibatnya adalah segala tindakan penguasa dibenarkan atau setidak- tidaknya dianggap benar.
Saluran Kepemimpinan
 Saluran Militer
Apabila saluran ini yang dipergunakan, maka penguasa akan lebih banyak mempergunakan paksaan(coer cion) serta kekuatan militer (military force) di dalam melaksanakan kekuasaannya. Tujuan utama adalah untuk menimbulkan rasa takut dalam diri masyarakat, sehingga mereka tunduk kepada kemauan penguasa atau sekelompok orang-orang yang dianggap sebagai penguasa. Untuk keperluan tersebut, seringkali dibentuk organisai- organisasi atau pasukan-pasukan khusus yang bertindak sebagai dinas rahasia. Hal ini banyak dijumpai pada negara-negara totaliter.
 Saluran Ekonomi
Dengan menggunakan saluran-saluran di bidang ekonomi, penguasa berusaha untuk menguasai kehidupan masyarakat. Dengan jalan menguasai ekonomi serta kehidupan rakyat tersebut, penguasa dapat melaksanakan peraturan-peraturannya serta akan menyalurkan perintah- perintahnya dengan dikenakan saksi-saksi yang tertentu
 Saluran Politik
Melalui saluran politik, penguasa dan pemerintah berusaha untuk membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh masyarakat. Caranya adalah antara lain, dengan meyakinkan atau memaksa masyarakat untuk menaati peraturan-peraturan yang telah dibuat oleh badan-badan yang berwenang dan yang sah.
 Saluran Tradisional
Saluran tradisional biasanya merupakan saluran yang paling dikuasai. Dengan cara menyesuaikan tradisi pemegang kekuasaan dengan tradisi yang dikenal di dalam sesuatu masyarakat, maka pelaksanaan kekuasaan dapat berjalan dengan lebih lancar.
Caranya adalah dengan jalan menguji tradisi pemegang kekuasaan dengan tradisi yang dikenal di dalam masyarakatnya, yang sudah meresap di dalam jiwa masyarakat yang bersangkutan. Dengan cara demikian, diharapkan akan dapat diketemukan suatu titik temu antara tradisi-tradisi tersebut. Sehingga pemerintahan akan dapat berjalan dengan lancer, yang berarti mencegah atau mengatasi reaksi negatif
 Saluran Ideologi
Penguasa-penguasa dalam masyarakat, biasanya mengemukakan serangkaian ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin, yang bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan kekuasaannya.
Soekanto, Soerjono. 1982. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Rajawali Press.
http://www.scribd.com/doc/29468780/Kekuasaan-Dan-Kepemimpinan-Sosio



{September 9, 2012}   Pendidikan Untuk Masyarakat

KEAKSARAAN FUNGSIONAL

A. PENGERTIAN
Pendidikan keaksaraan adalah pendidikan yang diberikan kepada mayarakat yang belum pernah memperoleh pendidikan atau drop out di sekolah dasar dalam rangka meningkatkan pengetahuan dasar, kemampuan baca tulis fungsional yang diintegrasikan dengan mata pencarian, dalam arti agar sedapat mungkin diusahakan belajar pendidikan dasar yaitu membaca, menulis, berhitung dilaksanakan secara terpadu dengan pendidikan mata pencarian dan diikuti dengan kegiatan berusaha.
Untuk membimbing belajarnya sumber belajar atau tutor untuk warga belajar yang belajar mandiri adalah anggota keluarganya sendiri, tetangga atau kenalan yang sudah tidak mengalami buta aksara dan angka. Begitu juga bagi mereka yang belajar berkelompok, sumber belajar boleh anggota keluarga atau anggota lain yang memiliki kelebihan dan bersedia secara sukarela membantu warga belajar.

B. TUJUAN
1. Menumbuhkan minat, kecintaan, dan kegemaran membaca, menulis, dan berhitung,
2. Memperkaya pengalaman belajar dan pengetahuan bagi masyarakat,
3. Menumbuhkan kegiatan belajar mandiri,
4. Membantu pengembangan kecakapan membaca, menulis, berhitung, dan berkomunikasi,
5. Menambah wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
6. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat.

C. PERSYARATAN UNTUK MENJADI WARGA BELAJAR DAN PENYELENGGARA
Sasaran pendidikan keaksaraan, yaitu :
1. Masyarakat yang buta huruf.
2. Masyarakat yang tidak tamat SD.
3. Masyarakat yang berekonomi lemah.
D. PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBELAJARAN KEAKSARAAN FUNGSIONAL
Efektifitas kegiatan belajar sangat bergantung pada kemampuan pendidik dalam mengorganisasi dan membimbing warga belajar dalam kegiatan belajarnya. Pengalaman menunjukkan bahwa kegiatan menulis perlu didahulukan daripada kegiatan membaca. Karena melalui kegiatan belajar menulis, warga belajar sedikit demi sedikit langsung belajar membaca. Sebaliknya, apabila mereka didahulukan belajar membaca, maka cenderung kurang terampil dalam hal menulis.
Langkah-langkah yang perlu dilakukan tutor dalam membelajarkan warga belajar adalah sebagai berikut:
a. Tanyakanlah perasaan warga belajar dan materi apa yang akan dipelajari pada hari itu.
b. Mintalah warga belajar mengemukakan ide/gagasan, perasaan, pengalaman, atau masalah yang dihadapinya.
c. Mintalah warga belajar berdiskusi tentang salah satu topik untuk dibuat kesepakatan bersama.
d. Apabila telah disepakati, buatlah tabel kosong, peta buta, atau kalender kegiatan dan mintalah semua warga belajar untuk mengisi tabel, peta, atau kalender kegiatan tersebut.
e. Jika topik yang dipilih adalah mengenai kegiatan sehari-hari, pengalaman, atau tentang perasaan warga belajar, maka mintalah warga belajar yang bersangkutan untuk mengemukakan dan menceritakan kembali, sedangkan warga belajar yang lainnya menanggapi.
f. Mintalah warga belajar yang menuliskan topik belajar tersebut untuk membacanya.
g. Kemudian, mintalah kepada semua warga belajar membaca hasil tulisan tersebut, baik secara bersama-sama maupun bergiliran.
h. Mintalah mereka untuk mendiskusikan judul atau tema tulisan di atas, kemudian membuat kesepakatan judul/tema.
i. Mintalah kepada warga belajar untuk mengkritisi dan memperbaiki ide/gagasan, ejaan, dan tanda baca.
j. Mintalah warga belajar menulis pada buku masing-masing.

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. PENGERTIAN
Pendidikan Anak Usia Dini atau disingkat PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kea rah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Menurut UU No 20 tahun 2003, pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhandan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Aspek pengembangan pada pendidikan anak usia dini mencakup 6 aspek, antara lain :
1. Pengembangan moral dan nilai-nilai agama, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama.
2. Pengembangan fisik, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengelolah dan keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrokl gerakan tubuh, gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar serta menerima rangsangan sensorik (pancaindra).
3. Pengembangan kemampuan berbahasa kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuang menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar.
4. Pengembngan kemampuan kognitif, kemampuan dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan berfikir logis kritis, memberi alasan, memecahkan masalah danmenemukan hubungan sebab akibat.
5. Pengembangan sosial emosional, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengenai lingkip alam, lingkup alam sosial, peran masyarakat, dan menmghargai keragaman sosial dan budaya serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, kontrol diri dan rasa memiliki.
6. Pengembangan seni, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan, serta berbagai hasil karya yang kreatif.

B. TUJUAN
Tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini ada dua, yaitu :
a. Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
b. Untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

C. PERSYARATAN UNTUK MENJADI WARGA BELAJAR DAN PENYELENGGARA
1. SASARAN PAUD
Sasaran akhir program PAUD adalah anak usia 0-6 tahun. Untuk mencapai sasaran akhir ini diperlukan sasaran antara yaitu :
a. Orangtua yang memiliki anak usia 0 – 6 tahun.
b. Pendidik dan pengelola lembaga pendidikan anak usia dini.
c. Lembaga atau masyarakat yang menyelenggarakan PAUD.

2. PENDIDIK PAUD
Yang terlibat dalam pengelolaan program pendidikan anak usia dini, yaitu :
a. Pemerintah Pusat dan Daerah.
b. Instansi pemerintah, BPPLSP, BPKB, SKB, Dinas Pendidikan, dll.
c. Lembaga swasta : LSM, Yayasan, PKK, Darma Wanita, dll.
d. Perorangan/individu.
e. Organisasi profesi, dunia usaha/industri.

D. JENIS-JENIS
1. Jalur Formal : Taman Kanak – kanak, Raudhatul Athfal, Satuan PAUD Sejenis.
2. Jalur Non Formal : Kelompok Bermain, Taman Penitipan Anak, Atau bentuk lain sederajat.
3. Jalur In Formal : Pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan.

PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP

A. PENGERTIAN
Menurut direktorat PLS Depdiknas (2005), pendidikan kecakapan hidup atau life skill merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan seseorang untuk melaksanakan hidup dan kehidupannya secara tapat guna dan berdaya guna dalam kehidupan sehari-hari.

B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Secara umum tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan , dan sikap warga belajar dalam bidang pekerjaan sesui dengan minat, bakat, potensi lingkungan perkembangan jiwa serta potensi lingkungan sehingga memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusaha sendiri sehingga dapat:
a. Mengurangi pengangguran
b. Mengentaskan kemiskinan , dan
c. Meningkatkan kualitas hidup.
2. Tujuan khusus
Agar peserta didik memiliki pengetahuan keterampilan dan sikap yang dibutuhkan dalam memasuki dunia kerja

C. Landasan Hukum
Peraturan perundang-undangan yang dijadikan landasan dalam mengembangkan kurikulum kecakapan hidup adalah sebagai berikut.
1. UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 36 ayat (1, 2, dan 3) dan pasal 38 ayat (2).
2. UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah.
3. PP No. 19 Tahun 2005, Pasal 13 ayat (1, 2, 3, dan 4).
4. Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan.
5. Panduan Pengembangan KTSP.

D. JENIS – JENIS
Jenis – jenis pendidikan kecakapan hidup menurut Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, yaitu :
1. Kecakapan pribadi
Mencakup kecakapan untuk mengenal diri sendiri, kecakapan untuk berfikir secara rasional, dan kecakapan untuk terampil dengan kepercayaan diri yang mantap.
2. Kecakapan sosial
Kecakapan sosial mencakup kecakapan untuk berkomunikasi, melakukan kerja sama, bertenggang rasa, dan memiliki kepedulian serta tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Kecakapan akademis
Mencakup kecakapan untuk merumuskan dan memecahkan masalah yang dihadapi melalui proses berfikir kritis, analisi dan sistematis. Mampu melakukan penelitian eksplorasi, inovasi dan kreasi melalui pendekatan ilmiah.
4. Kecakapan Vokasional
Mencakup berkaitan dengan bidang keterampilan professional tertentu dalam dunia usaha dan industry baik dipergunakan untuk bekerja sebagai karyawan/wati maupun usaha mandiri yang terdapat di masyarakat, seperti di bidang jasa (perbengkelan, jahit menjahit, dan produksi barang tertentu seperti peternakan, pertanian, perkebunan, dan lain – lain).

E. PROSES PELAKSANAAN
Pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup terintegrasi dengan beragam mata pelajaran yang ada di semua jenis dan jenjang pendidikan. Misalnya pada mata pelajaran Matematika yang mengintegrasikan pendidikan kecakapan hidup di dalamnya, selain mengajarkan peserta didik agar pandai matematika, juga pandai memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti: membaca data, menganalisis data, membuat kesimpulan, mempelajari ilmu lain, dan sebagainya.
Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam menjabarkan kecakapan hidup yang terintegrasi dalam mata pelajaran, antara lain:
1. Melakukan identifikasi unsur kecakapan hidup yang dikembangkan dalam kehidupan nyata yang dituangkan dalam bentuk kegiatan pembelajaran.
2. Melakukan identifikasi pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang mendukung kecakapan hidup.
3. Mengklasifikasi dalam bentuk topik/tema dari mata pelajaran yang sesuai dengan kecakapan hidup.
4. Menentukan metode pembelajaran.
5. Merancang bentuk dan jenis penilaian.

PENDIDIKAN KESETARAAN

A. PENGERTIAN
1. Pendidikan Kesetaraan
Pendidikan kesetaraan adalah program pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan umum setara SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA/SMK/MAK yang mencakup Program Paket A, Paket B, dan Paket C.
Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah atau pemerintah daerah dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan [UU No. 20/2003 Sisdiknas Pasal 26 Ayat (6)].

2. Program Paket A
Program Paket A adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan nonformal yang dapat diikuti oleh peserta didik yang ingin menyelesaikan pendidikan setara SD/MI. Lulusan Program Paket A berhak mendapat ijazah dan diakui setara dengan ijazah SD/MI.

3. Program Paket B
Program Paket B adalah program pendidikan dasar pada jalur pendidikan nonformal yang dapat diikuti oleh peserta didik yang ingin menyelesaikan pendidikan setara SMP/MTs. Lulusan Program Paket B berhak mendapat ijazah dan diakui setara dengan ijazah SMP/MTs.

4. Program Paket C
Program Paket C terdiri dari Paket C Umum dan Paket C Kejuruan. Program Paket C Umum adalah program pendidikan menengah pada jalur pendiidkan nonformal yang dapat diikuti oleh peserta didik yang ingin menyelesaikan pendidikan setara SMA/MA. Lulusan Program Paket C berhak mendapat ijazah dan diakui setara dengan ijazah SMA/MA.
Program Paket C Kejuruan adalah program pendidikan menengah pada jalur pendiidkan nonformal yang dapat diikuti oleh peserta didik yang ingin menyelesaikan pendidikan setara SMK/MAK. Lulusan Program Paket C berhak mendapat ijazah dan diakui setara dengan ijazah SMK/MAK.

B. FUNGSI DAN TUJUAN
1. Fungsi
Pendidikan Kesetaraan berfungsi mengembangkan potensi diri peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan akademik dan keterampilan fungsional dan pengembangan sikap dan kepribadian professional.

2. Tujuan
a. Menjamin penyelesaian pendiidkan dasar yang bermutu bagi anak yang kurang beruntung; putus sekolah, putus lanjut, tidak pernah sekolah, minoritas etnik, dan anak yang bermukim di desa terbelakang, miskin, bermasalah secara sosial, terpencil atau sulit dicapai karena letak geografis dan/atau keterbatasan transportasi dalam rangka memberi kontribusi terhadap peningkatan pendidikan dasar minimal 2-5% dalam mempercepat suksesnya wajar dikdas 9 tahun;
b. Menjamin pemenuhan kebutuhan belajar bagi semua warga masyarakat usia produktif melalui akses yang adil pada program-program belajar dan kecakapan hidup;
c. Memberikan kontribusi terhadap peningkatan rata-rata lama pendidikan bagi masyarakat Indonesia minimal 9 tahun sehingga mampu meningkatkan Hman Development Index (HDI) dan upaya menghapus ketidakadilan gender dalam pendidikan dasar dan menengah;
d. Memberikan peluang kepada warga masyarakat yang ingin menuntaskan pendidikan setara SD, SMP, SMA atau yang sederajat dengan mutu yang baik;
e. Melayani peserta didik yang memerlukan pendidikan akademik dan kecakapan hidup secara fleksibel untuk mengaktualisasikan diri sekaligus meningkatkan mutu kehidupannya.

C. DASAR HUKUM
Dasar hukum penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan Program Paket A, Paket B, dan Paket C adalah :
1. Undang-undang Dasar 1945;
2. Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1994 tentang Pelaksanaan Wajar Dikdas 9 Tahun;
3. Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas;
4. Keputusan Mendikbud No. 0131/U/1994 tentang Program Paket A dan Paket B;
5. Keputusan Mendiknas No. 0132/U/2004 tentang Program Paket C;
6. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan;
7. Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2006 tentang Gerakan Nasional Percepatan Penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun dan Pemberantasan Buta Aksara.

D. PERSYARATAN UNTUK MENJADI WARGA BELAJAR DAN PENYELENGGARA
1. Penyelenggara
a. Berbadan hukum yang dibuktikan dengan akta notaris atau keterangan legalitas sejenis lainnya.
b. Memiliki izin operasional dari Dinas kabupaten/kota atau dinas/kantor perizinan.
c. NPWP dan rekening bank atas nama lembaga.
d. Memiliki peserta didik dengan jumlah per kelompok/perrombongan belajar sebagai berikut; untuk Paket A setara SD/MI 20 peserta didik, Paket B setara SMP/MTs 25 peserta didik, Paket C setara SMA/MA 30 peserta didik (sesuai Permen 3/2008 tentang Standar Proses Pendidikan Kesetaraan).
e. Memiliki tutor dan narasumber teknis yang memadai dan sesuai dengan bidang mata pelajaran/keterampilan yang akan diajarkan.
f. Memiliki kurikulum, silabus, RPP, dan bahan ajar/modul untuk acuan dalam pelaksanaan pembelajaran/kegiatan keterampilan.
g. Memiliki sarana dan prasarana yang memadai.
h. Memiliki struktur penyelenggara minimal terdiri atas penanggungjawab, ketua, sekretaris, bendahara, dan seksi pendidikan.
i. Memiliki sekretariat lembaga yang tetap dengan alamat yang jelas.
j. Bersedia membelajarkan peserta didik hingga mengikutsertakan dalam ujian nasional.
k. Membuat nomor induk peserta didik.

2. Warga Belajar/Peserta Didik
a. Peserta didik program pendidikan kesetaraan adalah :
1) Peserta didik Program Paket A setara SD/MI adalah warga masyarakat yang :
a) Belum menempuh pendidikan di SD/MI dengan prioritas usia 13 – 15 tahun, kecuali bagi peserta didik yang menentukan Paket A atas pilihan sendiri;
b) Putus Sekolah Dasar;
c) Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri;
d) Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (waktu, geografi, ekonomi, sosial, hukum, dan keyakinan).
2) Peserta didik Program Paket B setara SMP/MTs adalah warga masyarakat yang :
a) Lulus Paket A SD/MI;
b) Belum menempuh pendidikan di SMP/MTs dari kelompok usia 15 – 44 tahun dengan prioritas usia 16 – 18 tahun, kecuali bagi peserta didik menentukan Paket B atas pilihan sendiri;
c) Putus SMP/MTs;
d) Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri;
e) Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (waktu, geografi, ekonomi, sosial, hukum, dan keyakinan).
3) Peserta didik Program Paket C Umum setara SMA/MA dan Paket C Kejuruan setara SMK/MAK adalah warga masyarakat yang :
a) Lulus Paket B SMP/MTs dan atau lulus SMK/sederajat tidak melanjutkan;
b) Putus SMA/MA, putus SMK/MAK;
c) Tidak menempuh sekolah formal karena pilihan sendiri;
d) Tidak dapat bersekolah karena berbagai faktor (waktu, geografi, ekonomi, sosial, hukum, dan keyakinan).

b. Penempatan peserta didik
Penempatan peserta didik dilakukan melalui berbagai cara, yaitu :
1) Verifikasi hasil pendidikan terakhir (dibuktikan dengan raport dan/atau ijazah).
2) Seleksi melalui wawancara atau tes tertulis yang dilakukan oleh tutor atau petugas yang ditunjuk oleh penyelenggara.
3) Apabila syarat pertama dapat dibuktikan secara sah, maka peserta didik dapat langsung ditempatkan.
4) Bagi peserta didik yang syarat pertama (1) dan kedua (2) tidak dapat dibuktikan, maka dilakukan tes penempatan.

E. JENIS-JENIS
1. PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)
PKBM merupakan satuan pendidikan nonformal yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat atau ormas, orsosmas, atau organisasi keagamaan.
2. SKB (Sanggar Kegiatan Belajar)
SKB merupakan unit pelaksana teknis daerah pendidikan non formal yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah kabupaten/kota.
3. Pondok Pesantren
Pondok Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan tertua di Indonesia di bawah pengawasan Departemen Agama.
4. Majelis Taklim
Majelis Taklim, yang secara literal berarti “tempat pembelajaran”merupakan suatu wadah dimana suatu kelompok masyarakat bertemu untuk belajar dan mendalami ajaran agama Islam.
5. Sekolah Rumah (Home Schooling)
Sekolah Rumah adalah layanan pendidikan yang secara sadar, teratur, dan terarah dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain, dimana proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.
6. Sekolah Alam
Sekolah Alam merupakan suatu bentuk pelayanan pendidikan yang menyatu dengan alam.
7. Sekolah Multi Grade Teaching/Sekolah Kelas Campuran
Adalah sekolah dimana peserta didik yang berbeda-beda tingkatan/level/kelas dicampur dan ditempatkan dalam satu kelas.
8. Susteran
Susteran yang merupakan institusi pendidikan untuk para biarawati di lingkungan umat Kristen Katholik dapat menjadi penyelenggara pendidikan kesetaraan.
9. Pusat/Badan Pendidikan Latihan dan Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Dalam rangka memperluas akses pendidikan kesetaraan Kementerian Pendidikan Nasional telah menjalin kerjasama dengan berbagai departemen.

F. PROSES PELAKSANAAN
1. Tahap Persiapan
a. Kepala bidang PNFI tingkat Kabupaten/Kota dan Penilik PNFI di Kecamatan mengadakan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat; kepala desa/kelurahan, kyai, ulama, dai, ketua orsosmas, ketua LSM, dan tokoh masyarakat yang lain.
b. Kepala bidang Kabupaten/Kota dan Penilik di Kecamatan dengan para tokoh masyarakat mengadakan sosialisasi program kepada masyarakat luas.
c. Kepala Seksi pada kantor Cabang Dinas Pendidikan yang membidangi PNFI, bersama dengan tokoh masyarakat mengidentifikasi penyelenggara program, tempat belajar, calon peserta didik, dan tenaga pendidik.
d. Penyelenggara program membuat kesepakatan dengan tenaga pendidik dan peserta didik tentang kegiatan belajar.
e. Penyelenggara program menyiapkan tempat kegiatan belajar, modul, bahan dan peralatan praktik dan pendidikan keterampilan, dan perlengkapan lain.

2. Tahap Pelaksanaan
a. Memulai kegiatan belajar sesuai dengan jadwal kegiatan.
b. Melaksanakan kegiatan belajar.
c. Memberi bimbingaan baik secara individu maupun kelompok.
d. Melaksanakan kegiatan evaluasi.
e. Melayani dan memenuhi kebutuhan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.

3. Pasca Pembelajaran
a. Penyelenggara dan tutor membantu memfasilitasi peserta didik yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
b. Penyelenggara dan tutor membantu peserta didik yang telah lulus/tamat belajar untuk menciptakan kegiatan usaha.
c. Memfasilitasi peserta didik yang telah lulus/tamat untuk mendapatkan lapangan kerja.
d. Mendata peserta didik yang telah bekerja.
e. Melakukan pendampingan bagi lulusan yang berwirausaha.



{September 9, 2012}   Makalah Pendidikan Masyarakat-PAUD

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Menurut UU, anak mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang, bermain, beristirahat, berkreasi, dan belajar dalam suatu pendidikan. Jadi, belajar adalah hak anak, bukan kewajiban. Orang tua dan pemerintah wajib menyediakan sarana dan prasarana pendidikan untuk anak dalam rangka program belajar.
Karena belajar adalah hak, maka belajar harus menyenangkan, kondusif, dan memungkinkan anak menjadi termotivasi dan antusias. Jadi, memaksa anak untuk belajar, sehingga anak merasa tertekan, atau membiarkan anak tidak mendapat pendidikan yang layak adalah tindakan kekerasan.

B. DASAR PROGRAM PAUD
1. UUD 1945 menyatakan bahwa … “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.” Amandemen UUD 1945, pasal 28 b: “Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
2. UU Nomor 23 Tahun 2002
Pasal 3: perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak – hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.
Pasal 4: setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta
Pasal 8: setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.

3. UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Pasal 1, butir 14
PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Pasal 28 ayat 1 – 6
PAUD dilakukan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

4. Konvensi Hak Anak
a. Non diskriminasi.
b. Kepentingan yang terbaik bagi anak.
c. Hak hidup, hak kelangsungan hidup dan perkembangan.
d. Penghargaan terhadap pendapat anak.

5. Deklarasi Dakkar tahun 2002
Tentang pendidikan untuk semua memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak – anak yang kurang beruntung.
Pasal 3: perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak – hak anak agar dapat hidup dan tumbuh.

6. World for Children 2002
a. Mencanangkan kehidupan yang sehat.
b. Memberikan pendidikan berkualitas.
c. Perlindungan terhadap aniaya, eksploitasi dan kekerasan.
d. Memerangi HIV/AIDS.

C. TUJUAN PROGRAM PAUD
Tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini ada dua, yaitu:
a. Membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
b. Untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PAUD
Pendidikan Anak Usia Dini atau disingkat PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar kea rah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Menurut UU No 20 tahun 2003, pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan dengan pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhandan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.
Aspek pengembangan pada pendidikan anak usia dini mencakup 6 aspek, antara lain :
a. Pengembangan moral dan nilai-nilai agama, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan melakukan ibadah, mengenal dan percaya akan ciptaan Tuhan dan mencintai sesama.
b. Pengembangan fisik, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengelolah dan keterampilan tubuh termasuk gerakan-gerakan yang mengontrokl gerakan tubuh, gerakan tubuh, gerakan halus dan gerakan kasar serta menerima rangsangan sensorik (pancaindra).
c. Pengembangan kemampuan berbahasa kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuang menggunakan bahasa untuk pemahaman bahasa pasif dan dapat berkomunikasi secara efektif yang bermanfaat untuk berfikir dan belajar.
d. Pengembngan kemampuan kognitif, kemampuan dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan berfikir logis kritis, memberi alasan, memecahkan masalah danmenemukan hubungan sebab akibat.
e. Pengembangan sosial emosional, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan mengenai lingkip alam, lingkup alam sosial, peran masyarakat, dan menmghargai keragaman sosial dan budaya serta mampu mengembangkan konsep diri, sikap positif terhadap belajar, kontrol diri dan rasa memiliki.
f. Pengembangan seni, kompetensi dan hasil belajar yang ingin dicapai adalah kemampuan kepekaan terhadap irama, nada, birama, berbagai bunyi, bertepuk tangan, serta berbagai hasil karya yang kreatif.

1. TUJUAN PAUD
Secara khusus kegiatan pendidikan bertujuan agar:
a. Anak mampu melakukan ibadah.
b. Anak mampu mengelola keterampilan tubuh.
c. Anak mampu menggunakan bahasa.
d. Anak mampu berpikir logis.
e. Anak mampu mengenal lingkungan alam.
f. Anak memiliki kepekaan terhadap irama.

2. PERANAN KELUARGA
Ada beberapa peranan orangtua terhadap pendidikan, yaitu:
a. Orangtua mempercayai sekolah (pendidik) yang menggantikan tugasnya selama di sekolah.
b. Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya dengan memperhatikan pengalaman – pengalamannya dan menghargai usaha – usaha serta menunjukkan kerja samanya dalam cara anak belajar di rumah atau membuat pekerjaan rumahnya.
c. Memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan – kebiasaan.
d. Mengajarkan nilai – nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang diajarkan di sekolah.

3. POLA ASUH DAN KREATIVITAS ANAK
Beberapa pola asuh yang dapat mempengaruhi kreativitas anak adalah sebagai berikut:
a. Lingkungan fisik.
b. Lingkungan sosial.
c. Pendidikan internal dan eksternal.
d. Dialog.
e. Suasana psikologis.
f. Sosial budaya.
g. Perilaku orang tua/pendidik.
h. Kontrol.
i. Menentukan nilai moral.

4. KOMITMEN DAN KEBIJAKAN PAUD DI INDONESIA
a. Komitmen Internasional
Secara internasional, perhatian terhadap PAUD semakin serius sejak dicanangkannya:
1) Education for All di Jomtien – Thailand (1999) yang memperjuangkan kesejahteraan bagi anak di seluruh dunia.
2) Convention on the Right of the Child, menegaskan perlunya perlindungan dan perkembangan anak dalam layanan pendidikan dasar dan keaksaraan.
3) The Salamanca Statement, pemenuhan kebutuhan bagi anak – anak berkebutuhan khusus, termasuk pemenuhan kebutuhan pendidikan.
4) Deklarasi Dakar, pendidikan untuk semua dan semua untuk pendidikan.
5) World Fit for Children dicanangkan dalam pertemuan pendidikan dunia di New York, yang telah menyepakati untuk menciptakan dunia yang aman dan kehidupan yangsehat bagi anak.
b. Kebijakan Nasional
1) Pembukaan UUD RI 1945, bangsa yang besar dan kuat dibangun oleh sumber daya manusia yang handal dan berbudi luhur. Hal ini dapat diupayakan melalui jalur pendidikan yang baik sejak dini.
2) Amandemen UUD 1945, bahwa setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya.
3) Undang – undang Perlindungan Anak, bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya.
4) Sistem Pendidikan Nasional, bahwa PAUD adalah suatu upaya yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan terhadap pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuiki pendidikan lebih lanjut.

B. LANDASAN PENYELENGGARAAN PAUD
1. LANDASAN YURIDIS
PAUD merupakan bagian dari pencapaian tujuan pendidikan nasional, sebagaimana diatur dalam UU No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rihani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

2. LANDASAN FILOSOFIS DAN REALIGI
PAUD pada dasarnya harus berdasarkan pada nilai – nilai filosofis dan religi yang dipegang oleh lingkungan yang berada di sekitar anak dan agama yang dianutnya. Pendidikan agama menekankan pada pemahaman tentang agama serta bagaimana agama diamalkan dan diaplikasikan dalam tindakan serta perilaku dalam kehidupan sehari – hari.

3. LANDASAN KEILMUAN DAN EMPIRIS
PAUD pada dasarnya harus meliputi aspek keilmuan yang menunjang kehidupan anak dan terkait dengan perkembangan anak. Konsep keilmuan PAUD bersifat isomorfis, artinya kerangka keilmuan PAUD dibangun dari interdisiplin ilmu yang merupakan gabungan dari beberapa disiplin ilmu, di antaranya: psikologi, fisiologi, sosiologi, ilmu pendidikan anak, antropologi, kesehatan dan gizi.
Dari segi empiris, pada waktu manusia lahir, kelengkapan organisasi otak memuat 100 – 200 milyar sel otak (Clark dalam Semiawan, 2004: 27) yang siap dikembangkan serta diaktualisasikan mencapai tingkat perkembangan potensi tertinggi.

C. PROSES PELAKSANAAN PEMBELAJARAN PAUD
1. TAHAP PERSIAPAN
a. Kepala bidang PAUD mengadakan komunikasi dengan tokoh-tokoh masyarakat; kepala desa/kelurahan, kyai, ulama, dai, ketua orsosmas, ketua LSM, dan tokoh masyarakat yang lain.
b. Tokoh masyarakat mengadakan sosialisasi program kepada masyarakat luas.
c. Kepala Seksi pada kantor Cabang Dinas Pendidikan yang membidangi PAUD, bersama dengan tokoh masyarakat mengidentifikasi penyelenggara program, tempat belajar, calon peserta didik, dan tenaga pendidik.
d. Penyelenggara program membuat kesepakatan dengan tenaga pendidik dan peserta didik tentang kegiatan belajar.
e. Penyelenggara program menyiapkan tempat kegiatan belajar, buku, media yang diperlukan dalam pembelajaran, dan perlengkapan lain.

2. TAHAP PELAKSANAAN
1) Memulai kegiatan belajar sesuai dengan jadwal kegiatan.
2) Melaksanakan kegiatan belajar.
3) Memberi bimbingaan baik secara individu maupun kelompok.
4) Melaksanakan kegiatan evaluasi.
5) Melayani dan memenuhi kebutuhan peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan.

3. PASCA PEMBELAJARAN
1) Penyelenggara dan tutor membantu memfasilitasi peserta didik anak usia dini yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
2) Penyelenggara dan tutor membantu peserta didik yang telah lulus/tamat belajar untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran.
3) Mendata peserta didik yang telah bersekolah di tingkat selanjutnya yang lebih tinggi.

4. BELAJAR TANPA BEBAN
Anak bukanlah orang dewasa. Dunia anak identik dengan dunia bermain. Belajarpun harus tetap dalam suasana bermain, kecuali anak tersebut memiliki minat untuk belajar mengenal huruf dan membaca.

D. PERSYARATAN WARGA BELAJAR DAN PENYELENGGARA
1. WARGA BELAJAR
Sasaran akhir program PAUD adalah anak usia 0-6 tahun. Untuk mencapai sasaran akhir ini diperlukan sasaran antara yaitu :
1) Orangtua yang memiliki anak usia 0 – 6 tahun.
2) Pendidik dan pengelola lembaga pendidikan anak usia dini.
3) Lembaga atau masyarakat yang menyelenggarakan PAUD.

2. PENYELENGGARA
Yang terlibat dalam pengelolaan program pendidikan anak usia dini, yaitu :
1) Pemerintah Pusat dan Daerah.
2) Instansi pemerintah, BPPLSP, BPKB, SKB, Dinas Pendidikan, dll.
3) Lembaga swasta : LSM, Yayasan, PKK, Darma Wanita, dll.
4) Perorangan/individu.
5) Organisasi profesi, dunia usaha/industri.

Yang dapat menjadi Tutor/Sumber Belajar, yaitu :
Dalam proses bermain, agar mendapatkan hasil belajar yang optimal harus didampingi oleh pendamping atau tenaga pendidik yang paling tidak memiliki beberapa persyaratan sebagai pendidik anak usia dini, antara lain:
a. Pendidikan minimal SLTA/Sederajat.
b. Mencintai dunia anak.
c. Usia minimal 18 tahun.
d. Mau dan mampu mendampingi anak.
e. Memahami pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini.

E. PENYELENGGARAAN PAUD DI INDONESIA
1. JALUR PENYELENGGARAAN PAUD
a. Jalur Formal: Taman Kanak – kanak atau RA dan lembaga sejenis.
b. Jalur nonformal: Taman Penitipan Anak.
c. Jalur informal: dilakukan oleh keluarga maupun lingkungan. Tujuannya untuk memberikan keyakinan agama, menanamkan nilai budaya, nilai moral, etika dan kepribadian, estetika serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.
2. SATUAN PAUD
a. Taman Kanak – kanak dan Raudhatul Athfal
TK dan RA merupakan salah satu bentuk layanan pendidikan formal yang ditujukan bagi anak usia 4 – 6 tahun sebelum memasuki pendidikan dasar (PP No. 27/1990). TK dan RA bertujuan untuk membantu meletakkan dasar kearah perkembangan sikap, perilaku, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta anak didik untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.
b. Kelompok Bermain
Kelompok bermain adalah salah satu bentuk layanan pendidikan bagi anak usia 3 – 6 tahun yang berfungsi untuk membantu meletakkan dasar – dasar kearah perkembangan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan bagi anak usia dini dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya, sehingga siap memasuki pendidikan dasar.
c. Taman Penitipan Anak
TPA merupakan salah satu wahana pendidikan dan pembinaan kesejahteraan anak yang berfungsi sebagai pengganti keluarga untuk jangka waktu tertentu selama orangtuanya berhalangan atau tidak memiliki waktu yang cukup dalam mengasuh anaknya karena bekerja atau sebab lain.
d. Satuan PAUD Sejenis
Program satuan PAUD sejenis yang telah ada di masyarakat saat ini antara lain kelompok bermain yang terintegrasi dengan Posyandu, BKB, taman bermain, sekolah alam, dsb.
e. Pos PAUD
Di Pos PAUD peserta didiknya adalah anak yang berusia 0 – 6 tahun yang tidak terlayani PAUD lainnya. Orang tua wajib memperhatikan kegiatan anak selama di Pos PAUD agar dapat melanjutkan di rumah.

F. PERAN GURU PAUD
1. PERAN GURU DALAM BERINTERAKSI
Guru anak usia dini akan sering berinteraksi dengan anak dalam berbagai bentuk perhatian, baik interaksi lisan maupun perbuatan.
2. PERAN GURU DALAM PENGASUHAN
Pendidik anak usia dini menganjurkan untuk mengasuh dengan sentuhan dan kasih sayang.
3. PERAN GURU DALAM MENGATUR TEKANAN/STRESS
Guru membantu anak untuk belajar mengatur tekanan akan menciptakan permainan dan mempelajari lingkungan yang aman pengelolaan tekanan dan dapat mengatasi kemampuan membantu perkembangan anak.
4. PERAN GURU DALAM MEMBERIKAN FASILITAS
Anak – anak membutuhkan kesempatan untuk bermain imajinatif, mengekspresikan diri, menemukan masalah, menyelidiki jalan alternatif, dan menemukan penemuan baru untuk mempertinggi perkembangan kreativitas.
5. PERAN GURU DALAM PERENCANAAN
Para guru perlu merencanakan kebutuhan anak – anak untuk aktivitas mereka, perhatian, stimulasi, dan kesuksesan melalui keseimbangan dan kesatupaduan di dalam kelas dan melalui implementasi desain kegiatan yang terencana.
6. PERAN GURU DALAM PENGAYAAN
Guru harus menyediakan kesempatan belajar pada anak pada perkembangan yang tepat, “bagaimana anak belajar dapat mencerminkan bagaimana guru belajar”.

G. KOMPETENSI PENDIDIK PAUD
1. SOSOK UTUH DAN STANDAR KOMPETENSI GURU PAUD
a. Kompetensi Dasar bagi Tutor
Tenaga pendidik pada program pendidikan anak usia dini paling tidak harus memiliki beberapa kompetensi yaitu kompetensi personal, kompetensi akademik, kompetensi teknis, dan kompetensi sosial.
b. Sosok Utuh Kompetensi Guru Paud
Penguasaan sosok utuh kompetensi professional guru diperoleh dalam latihan menerapkan kemampuan akademik melalui program pengalaman lapangan yang sistematis di berbagai lembaga yang memberikan layanan pendidikan bagi anak usia dini.
c. Standar Kompetensi Guru Paud
Penguasaan kompetensi akademik diperoleh melalui pendidikan akademik dengan beban studi dalam semester tertentu, sedangkan penguasaan kompetensi professional dicapai melalui terapan kontekstual dari kompetensi akademik yang bersangkutan dalam waktu sekitar satu atau dua semester diakhir kegiatan masa studinya.

2. KOMPETENSI AKADEMIK/PEDAGOGIS
a. Memahami karakteristik, kebutuhan, dan perkembangan peserta didik.
b. Menguasai konsep dan prinsip pendidikan.
c. Menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan.
d. Menguasai media pembelajaran.

3. KOMPETENSI PROFESIONAL
a. Menguasai substansi aspek – aspek perkembangan anak.
b. Mengintegrasikan berbagai bidang pengembangan.
c. Mengaitkan bidang pengembangan dengan kehidupan sehari – hari.
d. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri dan profesi.

4. KOMPETENSI KEPRIBADIAN
a. Menampilkan diri sebagai pribadi yang beribawa.
b. Berakhlak mulia dan menjadi teladan bagi peserta didik.
c. Memiliki perilaku yang demokratis.
d. Memiliki sikap dan komitmen terhadap profesi.

5. KOMPETENSI SOSIAL
a. Berkomunikasi secara santun kepada peserta didik.
b. Berkomunikasi secara santun kepada sesama tutor.
c. Berkomunikasi secara santun kepada orang tua/wali peserta didik.
d. Bekerja sama secara efektif dengan peserta didik, sesama tutor, dan tenaga kependidikan, serta masyarakat sekitar.

6. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN
Sebagai suatu bentuk layanan ahli dengan kemampuan untuk mengambil keputusan non-rutin dalam pelaksanaan tugasnya, Standar Kompetensi Lulusan S1 PG – PAUD secara utuh terdiri atas:
a. Kompetensi akademik guru PAUD, dan
b. Kompetensi professional guru PAUD.

7. STANDAR PENDIDIK
a. Kualifikasi Guru sesuai Permendiknas no. 16 th 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
b. Belum memenuhi kualifikasi disebut guru pendamping.
c. Kompetensi : Kepribadian, Profesional, Pedagogik dan Sosial
(http://www.slideshare.net/NASuprawoto/standar-pendidikan-anak-usia-dini).

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Pendidikan anak usia dini merupakan suatu proses belajar anak yang mana dapat dilaksanakan secara bermain, bukan hanya belajar seperti sekolah dasar. Dikarenakan untuk proses pembelajaran mereka harus menyenagkan dan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dirasakan oleh anak-anak pada usia dini agar pembelajaran yang diberikan dapat diterima dengan mudah oleh anak usia dini.

DAFTAR PUSTAKA

‘Aini, Wirdatul. 2006. Bahan Ajar Konsep Pendidikan Luar Sekolah. Padang.

Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini. 2004. Apa, Mengapa, dan Siapa yang BertanggungJawab Terhadap Program Pendidikan Anak Usia Dini?. Proyek Pengembangan Anak Usia Dini Pusat.

Hasan, Maimunah. 2009. PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Jogjakarta: DIVA Press.

http://www.slideshare.net/NASuprawoto/standar-pendidikan-anak-usia-dini (diakses 5 Oktober 2011).

Sujiono, Yuliani Nurani. 2009. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta: Indeks.



{September 9, 2012}   Pengelolaan PAUD

A. PENGERTIAN MANAJEMEN PAUD
Lembaga atau satuan PAUD sebagai salah satu bentuk layanan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal yang mengutamakan kegiatan bermain sambil belajar. Penyelenggaraan satuan PAUD dapat dilaksanakan oleh lembaga baik swasta, pemerintah, organisasi masyarakat maupun perorangan yang memiliki kepedulian terhadap PAUD. Setiap penyelenggaraan program PAUD baik lembaga maupun perorangan harus memperoleh ijin pendirian dari Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah setempat.

B. SYARAT – SYARAT PENGELOLAAN PAUD
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam pengajuan ijin penyelenggaraan PAUD, yaitu:
1. Surat permohonan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten, Cq KaBid PLSPO yang diketahui oleh lurah, camat dan penilik PLS Kecamatan.
2. Akta notaries pendirian yayasan.
3. Bentuk dan nama lembaga.
4. Visi dan Misi lembaga.
5. Program kegiatan mengajar.
6. Sarana dan prasarana.
7. Data keterangan yang berisi:
a. Data pengelola, pendidik, pengasuh (fotokopi SK Pengangkatan, ijazah terakhir, jumlah jam mengajar).
b. Data peserta didik.
c. Denah lokasi.
d. Surat keterangan kepemilikan bangunan.
e. Surat ijin lingkungan diketahui RT/Kadus/Lurah.
f. Struktur Organisasi.

Masa berlaku ijin penyelenggaraan PAUD adalah 3 tahun sejak tanggal diterbitkannya SK, atau disesuaikan dengan kebijakan yang ditetapkan oleh dinas terkait. Karena pada kenyataannya masing-masing Dinas Kabupaten dan Kota mempunyai kebijakan sendiri (otonomi daerah).
Suatu lembaga pendidikan agar dapat berjalan secara efektif dan efisien diperlukan adanya penataan, pengaturan, pengelolaan dan kegiatan lain yang sejenis. Langkah-langkah tersebut harus dikonsepkan secara sistematis.
Manajemen dapat diartikan sebagai pengelolaan, dalam hal ini pengelolaan lembaga menitik beratkan pada 4 komponen, yaitu:
1. Pengelolaan tenaga kerja, Pendidik dan Tenaga Kependidikan.
2. Peserta didik.
3. Sarana prasarana.
4. Pengelolaan Keuangan.
Eksistensi lembaga harus dibangun sendiri mungkin dengan menentukan perencanaan yang jelas. Hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut diatas adalah:
1. Adanya aturan manajemen Program Pendidikan.
2. Adanya aturan manajemen Sumber Daya Manusia.
3. Adanya aturan manajemen Keuangan.
4. Adanya aturan manajemen Sarpras.
Pengelolaan Tenaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Dalam dunia pendidikan, pengelolaan atas tenaga kerja ini berorientasi pada pembangunan pendidikan, dimana bidang garapan dan keluarannya jelas berbeda dari bidang garapan dan keluaran perusahaan dan pemerintah atau lembaga lainnya. Hal tersebut sejalan dengan karakteristik aktifitas dunia pendidikan yang menjadi pembeda dengan aktivitas di bidang lainnya. Demikian halnya dengan praktik-praktik pengelolaan tenaga pendidik, bagaimanapun tidak dapat disamakan sepenuhnya dengan praktik-praktik pengelolaan tenaga kerja dalam organisasi lainnya.
Pendidik PAUD sebagai sumber belajar merupakan salah satu komponen pening dalam menentukan keberhasilan program PAUD karena pendidik terlibat langsung dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan proses pembelajaran. Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 1 ayat (6) disebutkan bahwa pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
Dedi Supriadi (1999: 176) menyatakan bahwa tenaga pendidik PAUD semestinya disiapkan secara professional, dimana seorang professional paling tidak mempunyai 3 unsur utama yaitu:
1. Pendidikan yang memadai, disiapkan secara khusus melalui lembaga pendidikan dengan kualifikasi tertentu.
2. Keahlian dalam bidangnya.
3. Komitmen dalam tugasnya.

Kompetensi Pendidik PAUD
Hasil Seminar Nasional dan Workshop tentang PAUD yang diselenggarakan oleh DitJen PLS Th 2003, menyimpulkan bahwa para educator atau tenaga pendidik professional dan semi-profesional dalam pendidikan Anak Usia Dini direkomendasikan untuk memiliki sejumlah kompetensi yaitu kompetensi akademik, professional, personal, dan sosiointerpersonal (sosial).
Manajemen Pendidik
1. Rekruitmen / Perekrutan Tenaga Kependidikan.
2. Pembinaan.
3. Pemberhentian / Mutasi.

Perekrutan Tenaga Pendidik
Perekrutan tenaga pendidik merupakan usaha-usaha yang dilakukan oleh lembaga atau yayasan untuk memperoleh tenaga pendidik yang dibutuhkan.
Langkah-langkah penting dalam proses perekrutan sebagai kelanjutan perencanaan tenaga pendidik, yaitu:
1. Menyebarluaskan pengumuman tentang kebutuhan tenaga pendidik dalam berbagai jenis dan kualifikasinya sebagaimana proses perencanaan yang telah ditetapkan, dapat melalui media publikasi atau rekomendasi terbatas, atau kerjasama dengan instansi lain.
2. Menentukan persyaratan bagi pelamar sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang ditetapkan baik administrasi maupun akademis.
3. Menyelenggarakan pengujian berdasarkan standar seleksi dan dengan menggunakan teknik-teknik seleksi atau cara-cara tertentu yang dibutuhkan.

Standar – standar seleksi misalnya:

1. Umur.
2. Keterampilan Komunikasi.
3. Kesehatan fisik.
4. Motivasi.
5. Pendidikan.
6. Minat.
7. Pengalaman.
8. Sikap dan nialai-nilai.
9. Tujuan – tujuan.
10. Kesehatan mental.
11. Penampilan.
12. Kepantasan bekerja di Dunia Pendidikan.
13. Pengetahuan Umum.
14. Faktor lain yang ditetapkan penguasa.

Pembinaan/Pengembangan Tenaga Pendidik
Pembinaan atau pengembangan tenaga pendidik merupakan usaha mendayagunakan, memajukan dan meningkatkan produktivitas kerja setiap tenaga pendidik yang ada. Tujuan dari kegiatan pembinaan ini adalah tumbuhnya kemampuan setiap tenaga pendidik yang meliputi pertumbuhan keilmuannya, wawasan berpikirnya, sikap terhadap pekerjaannya dan ketrampilan dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari sehingga produktivitas kerja dapat ditingkatkan suatu program pembinaan tenaga pendidik biasanya diselenggarakan atas asumsi adanya berbagai kekurangan dilihat dari tuntutan organisasi, atau karena adanya kehendak dan kebutuhan untk tumbuh dan berkembang dikalangan tenaga kependidikan itu sendiri.
Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penyelenggarakan pembinaan tenaga pendidik ini, yaitu:
1. Pendidik tenaga pendidik patut dilakukan untuk semua jenis tenaga pendidik.
2. Pembinaan tenaga pendidik berorientasi pada perubahan tingkah laku dalam rangka peningkatan kemampuan professional dan atau teknis untuk pelaksanaan tugas sehari-hari sesuai denagn posisinya masing-masing.
3. Pembinaan tenaga pendidik dilaksanakan untuk mendorong meningkatkan kontribusi setiap individu terhadap organisasi pendidikan atau system sekolah, dan menyediakan bentuk-bentuk penghargaan, kesejahteraan dan intensif sebagai imbalannya guna menjamin terpenuhinya secara optimal kebutuhan social ekonomis maupun kebutuhan social-psikologis.
4. Pembinaan tenaga pendidik dirintis dan diarahkan untuk mendidik dan melatih seseorang sebelum maupun sesudah menduduki jabatan/posisi, baik karena kebutuhan-kebutuhan yang berorientasi terhadap lowongan jabatan/posisi dimasa yang akan datang, (misalnya magang).
5. Pembinaan tenaga pendidik sebenarnya dirancang untuk memenuhi tuntutan pertumbuhan dalam jabatan, pengembangan profesi, pemecahan masalah, kegiatan-kegiatan remedial, pemeliharaan motivasi kerja dan ketahanan organisasi pendidikan.

Cara yang lebih popular dalam membina dan mengembangkan tenaga pendidik dilakukan melalui penataran (inservice training) baik dalam rangka penyegaran (refreshing) maupun dalam rangka peningkatan kemampuan mereka (up-grading) atau bersama-sama (collaborative effort), misalnya mengikuti kegiatan atau kesempatan, one-service training, on the job training, seminar, workshop, diskusi panel, rapat-rapat, symposium, konferensi, dan sebagainya.

Pemberhentian Tenaga Pendidik
Pemberhentian tenaga pendidik merupakan proses yang membuat seseorang tenaga pendidik tidak dapat lagi melaksanakan tugas pekerjaan atau fungsi jabatannya baik untuk sementara waktu maupun untuk selama-lamanya. Banyak alasan yang menyebabkan seorang tenaga pendidik berhenti dari pekerjaannya (PHK), yaitu:
1. Penilaian kinerja yang bersangkutan menurun meskipun sudah diberikan peringatan oleh atasan.
2. Karena permintaan sendiri untuk berhenti
3. Karena mencapai batas usia pensiun menurut ketentuan yang berlaku.
4. karena adanya penyederhanaan organisasi yang menyebabkan adanya penyederhanaan tugas disatu pihak lain diperoleh kelebihan tenaga kerja.
5. Karena yang bersangkutan melakukan penyelewengan atau tindakan pidana, misalnya melanggar peraturan yang berlaku seperti melanggar sumpah jabatan, melanggar peraturan disiplin, korupsi dan sebagainya.
6. Karena yang bersangkutan tidak cukup cakap jasmani maupun rohani, seperti cacat karena suatu hal yang menyebabkan tidak mampu lagi bekerja, mengidap penyakit yang membahayakan diri dan lingkungan, berubah ingatan dan sebagainya.
7. Karena meninggalkan tugas dalam jangka waktu tertentu sebagai pelanggaran atas ketentuan yang berlaku.
8. Karena meninggal dunia atau karena hilang sebagaimana dinyatakan oleh pejabat yang berwenang.
9. Karena ijin mengembangkan diri.

C. CONTOH – CONTOH PERLENGKAPAN ADMINISTRASI DI PAUD
Administrasi yang diperlukan untuk pengelolaan tenaga pendidik, yaitu:
1. Administrasi Kepegawaian:
a. Curriculum Vitae.
b. Ijazah.
c. KK.
d. Riwayat Kesehatan.

2. Administrasi kelembagaan:
a. Daftar hadir staff.
b. Data staff.
c. SK Mengajar.
d. Form tugas keluar.
e. Form permohonan ijin.
f. Daftar penerimaan gaji.
g. Form evaluasi staff secara berkala.

Pengelolaan Peserta Didik
Pengelolaan peserta didik menurut Hendayat Soetopo dan Wanty Soemanto (1982) adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang berkaitan dengan peserta didik, yaitu mulai masuknya peserta didik sampai dengan keluarnya peserta didik tersebut dari suatu sekolah atau suatu lembaga.
Dengan demikian pengelolaan peserta didik itu bukanlah dalam bentuk pencatatan/pengelolaan data peserta didik saja, melainkan meliputi aspek yang lebih luas, yang secara operasional dapat dipergunakan untuk membantu kelancaran upaya pertumbuhan dan perkembangan peserta didik melalui proses pendidikan di sekolah.

Rekruitmen Peserta Didik
Setiap tahun ajaran baru, sekolah disibukkan oleh penerimaan siswa baru. Sebelum kegiatan ini dimulai, kepala sekolah terlebih dahulu membentuk panitia. Kegiatan yang disiapkan yaitu:
1. Pendaftaran
Jadwal penerimaan peserta didik tersebut disebarluaskan kepada masyarakat, bias melalui media massa, pengumuman sekolah, penyebaran brosur, open house, pameran, dll.
2. Syarat-syarat pendaftaran
Syarat-syarat pendaftaran ditentukan oleh lembaga sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan. Misalnya:
a. Mengisi formulir
b. Mengumpulkan foto
c. Membayar administrasi
d. Dan persyaratan yang lain yang sudah ditentukan yang dianggap perlu oleh lembaga.
3. Seleksi
Seleksi dilakukan apabila jumlah pendaftarnya melebihi daya tampung yang tersedia.
4. Pengumuman
Setelah pengumuman penerimaan peserta didik baru, dilakukan sosialisasi aturan-aturan sekolah yang wajib dipenuhi oleh peserta didik baru.

Pencatatan dan Pelaporan Kemajuan Peserta Didik
Kegiatan ini sangat diperlukan sejak diterima di sekolah itu sampai mereka tamat atau meninggalkan sekolah tersebut. Pencatatan dan perlengkapan yang diperlukan berupa:
1. Buku Induk
Buku ini disebut juga buku pokok atau stambuk. Buku ini berisi catatan tentang peserta didik yang masuk pada sekoalh tersebut. Setiap pencatatn peserta didik disertai denagn nomor pokok atau stambuk, dan dilengkapi pula dengan data lain setiap peserta didik.
2. Buku Klaper
Pencatatan buku ini dapat diambil dari buku induk, tetapi penulisannya disusun berdasarkan abjad. Hal ini untuk memudahkan pencarian data peserta didik jika sewaktu-waktu diperlukan.
3. Daftar Presensi
Daftar hadir peserta didik sangat penting sebab frekuensi kehadiran setiap peserta didik dapat diketahui/dikontrol.

4. Buku catatan pribadi peserta didik
Buku catatan peserta didik ini lebih lengkap lagi tentang data setiap peserat didik. Buku ini antara lain berisi: identitas peserta didik, keterangan mengenai keadaan keluarga, keadaan jasmani dan kesehatan, riwayat pendidikan serta hasil belajar, data psikologi (sikap, minat, dan cita-cita) dan juga kegiatan di luar sekolah.
5. Buku daftar mutasi anak didik
Untuk mengetahui jumlah anak didik yang tepat, sekolah atau lembaga harus mempunyai buku/daftar mutasi peserta didik. Daftar mutasi itu digunakan untuk mencatat keluar masuknya peserta didik dalam setiap bulan, semester atau setahun. Hal ini karena keadaan jumlah peserta didik tidak tetap, ada peserta didik pindahan dan ada yang keluar, termasuk mereka yang melanjutkan pendidikan pada jenjang berikutnya.
6. Laporan perkembangan peserta didik
a. Melalui buku komunikasi yang diberikan secara harian, mingguan atau bulanan yang isinya berupa informasi dari guru tentang kegatan yang diikuti oleh anak dan kemajuan perkembangan anak selama mengikuti kegiatan di sekolah.
b. Laporan perkembangan peserta didik diperoleh dari hasil observasi guru dan analisa kegiatan anak didik sehingga orang tua dapat memperoleh informasi tentang perkembangan anak secara actual.

Manajemen Sarana Prasarana
Yang dimaksud dengan Prasarana pendidikan adalah bangunan sekolah dan alat perabot sekolah yang berperan dalam proses belajar mengajar walaupun secara tidak langsung.
Garis besar tentang manajemen Sarana Prasarana meliputi hal-hal dibawah ini, yaitu:
1. Penentuan Kebutuhan
Sebelum mengadakan alat-alat tertentu atau fasilitas yang lain lebih dahulu harus melihat kekayaan yang ada baru bisa menentukan sarana apa yang diperlukan berdasarkan kepentingan pendidikan di sekolah tersebut.
2. Proses pengadaan
Dalam upaya proses pengadaan sarana pendidikan dapat diperoleh dengan beberapa jalan yang bisa ditempuh, yaitu:
a. Pembelian dengan biaya dari pemerintah
b. Pembelian dengan biaya SPP
c. Bantuan dari BP3 atau komite sekolah
d. Bantuan dari masyarakat lainnya.
3. Pemakaian
Dari segi pemakaian atau penggunaan terutama alat perlengkapan dapat dibedakan atas:
a. Barang Habis Pakai
Penggunaan barang habis pakai harus digunakan secara maksimal dan dipertanggungjawabkan pada tiap triwulan.
b. Barang tidak Habis Pakai
Penggunaan barang tidak habis pakai atau barang tetap dipertanggung jawabkan satu tahun sekali sehingga diperlukan adanya pemeliharaan dan barang-barang tersebut disebut dengan barang inventaris.
4. Pencatatan / pengurusan
Untuk keperluan pengurusan dan pencatatan ini disediakan instrumen administrasi berupa:
a. Buku inventaris.
b. Buku Pembelian.
c. Buku Penghapusan.
d. Kartu Barang.
5. Pertanggungjawaban
Penggunaan barang-barang inventaris sekolah harus dipertanggungjawabkan dengan jalan membuat laporan penggunaan barang-barang tersebut yang ditujukan kepada instansi atasan.

Manajemen Keuangan
Setiap unit kerja selalu berhubungan dengan keuangan, demikian pula dengan sekolah. Sumber keuangan pendidikan berasal dari:
1. Anggaran Negara, antara lain:
a. Anggaran rutin, contoh untuk gaji pegawai, biaya ujian, biaya perawatan gedung,dll.
b. Anggaran Pembangunan, contoh untuk kegiatan fisik yaitu pembuatan gedung, untuk non fisik yaitu Pelatihan atau Diklat pendidik.
2. Dana Masyarakat
Yang termasuk dana masyarakat yaitu:
a. Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP).
b. Iuran BP3/ Komite sekolah.
c. Bantuan atau hibah dan lainnya yang sah menurut aturan yang ada.
3. Prosedur manajemen keuangan yaitu:
a. Budgeting / penganggaran
Yang termasuk dalam kegiatan ini yaitu penggalian sumber dana dan merancang penggunaan dana tersebut. Membuat Rencana Anggaran dan Belanja Sekolah (RAPBS)
b. Accounting / Pembukuan
Yaitu proses pencatan transaksi penggunaan dana untuk pertanggungjawaban.
c. Auditing
Pertanggungjawaban atau pengecekan antara laporan/pencatatan dengan hasil sesungguhnya dilapangan.
4. Instrumen administrasi keuangan, antara lain :
a. Buku kas umum.
b. Buku kas tabelaris.
c. Daftar permintaan/penerimaan gaji (oleh bagian keuangan).
d. Surat pertanggungjawaban (SPJ), contoh: kwitansi, daftar penerimaan gaji.
e. Daftar Pembayaran SPP.
f. Rencana Anggaran Pendapatan dab Belanja Sekolah (RAPBS).
Pemetaan Sekolah (School Maping)
Metode perencanaan pendidikan secara mikro yang berupa proses penataan atau penataan kembali jaringan yang baru dengan daya tampung yang lebih besar, dimana sumber-sumber yang ada dapat digunakan secara optimal, di samping itu diusahakan mutu pendidikan yang lebih berbobot dan mempunyai relevansi dengan pembangunan.
Tujuan dari pemetaan sekolah yaitu:
1. Menata jaringan sekolah.
2. Meningkatkan mutu pendidikan.
3. Perencanaan dalam menentukan lokasi sekolah (membuka Cabang sekolah baru).
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemetaan sekolah, yaitu:
1. Perkembangan pemukiman penduduk.
2. Perkembangan anak usia sekolah.
3. Lembaga pendidikan yang sudah ada
4. Jaringan transportasi
5. Pendayagunaan fasilitas.
6. Penyelenggaraan kurikulum.
Apabila akan membangun sebuah lembaga sekolah, sasaran optimal yang harus diperhatikan yaitu:
1. Membangun sekolah ditempat yang banyak anak usia sekolah.
2. Membangun sekolah ditempat yang belum ada sekolah khususnya daerah terpencil.
3. Jangan sampai mengurangi jumlah murid sekolah lain yang sudah ada.
Dalam menentukan lokasi yang ideal untuk sekolah baru ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu:
1. Mudah dijangkau.
2. Jauh dari tempat yang ramai.
3. Lama tempuh tidak melebihi 15 menit atau 1,5 Km perjalanan.
4. Cukup murid.
5. Tidak bertolak belakang dengan perkembangan pemikiran (primitif).



et cetera