sitiativa











{September 9, 2012}   Laporan Observasi SKB Binjai

BAB I
ORIENTASI LEMBAGA

A. NAMA
Nama Lembaga : UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kota Binjai.

B. VISI
Terwujudnya kualitas sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa, berilmu serta terampil melalui penyelenggaraan pendidikan luar sekolah, pemuda, olahraga dan kebudayaan yang bermutu menuju Binjai sejahtera.

C. MISI
1. Menyelenggarakan pendididkan yang bermutu melalui proses belajar mengajar disetiap program dan jenjang pendidikan luar sekolah, pemuda, olahraga dan kebudayaan secara baik dan benar.
2. Menumbuh kembangkan profesionalisme seluruh komponen pendidikan luar sekolah, pemuda, olahraga dan kebudayaan dalam iklim yang kondusif.
3. Mengembangkan pribadi warga belajar yang beriman dan bertaqwa, berilmu dan terampil, mandiri, kreatif, tekun dan memiliki kepercayaan diri menghadapi tantangan masa depan.
4. Mengembangkan dan meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan luar sekolah, pemuda, olahraga dan kebudayaan untuk menunjang terselenggaranya manajemen pendidikan luar sekolah, pemuda, olahraga serta budaya yang optimal.

D. TUGAS DAN FUNGSI
Sesuai Keputusan Walikota Binjai No. 061/2438/SK/2001 Bab IV tanggal 31 Desember 2001 dijelaskan bahwa SKB Kota Binjai sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas mempunyai tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:
Pasal (31) Tugas Pokok
Melaksanakan pembuatan dan percontohan serta pengendalian mutu pelaksanaan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga serta budaya.
Pasal (32) Fungsi
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut SKB Kota Binjai mempunyai fungsi antara lain:
1. Pembangkitan dan penumbuhan kemauan belajar masyarakat dalam rangka terciptanya masyarakat gemar membaca.
2. Pemberian motivasi dan pembinaan masyarakat agar mau dan mampu menjadi tenaga pendidik dalam pelaksanaan azas saling membelajarkan.
3. Memberikan pelayanan informasi kegiatan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga serta budaya.
4. Pembuatan percontohan berbagai program dan pengendalian mutu pelaksanaan program pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga serta budaya.
5. Penyusunan dan pengadaan sarana belajar muatan lokal.
6. Penyediaan sarana dan fasilitas belajar.
7. Pengintegrasian pendidikan dan pelatihan tenaga pelaksana bidang pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga serta budaya.
8. Pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga pelaksana bidang pendidikan luar sekolah, pemuda dan olahraga serta budaya.
9. Pengelolaan tata usaha sanggar.

E. LOKASI
Alamat Lengkap : Jl. Samanhudi No. 16, Kelurahan Satria, Kecamatan Binjai, Kota Binjai, Sumatera Utara. Telp. 061-8823215 / Hp.08126371565.
Kepala SKB : Drs. T. Syarifuddin, M.Pd.
NIP : 19621011 199003 1 007

Gambar 1. SKB Binjai tampak dari depan
F. DASAR HUKUM
Dasar Kelembagaan : SK Walikota Binjai No. 061/2438/SK/2001 tgl 31/12/01.

G. SEJARAH
1. Tahun 1978 dengan nama Pusat Pelatihan dan Pendidikan Masyarakat (PLPM) Kotamadya Binjai.
2. Tahun 1980 berubah menjadi Sanggar Kegiatan Belajar Binjai Kota yang berada dibawah bimbingan Teknis Dirjen PLSPO.
3. Tahun 2001 berubah menjadi UPTD Sanggar Kegiatan Belajar Kota Binjai dan berada dibawah Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kota Binjai.

H. SARANA DAN PRASARANA
 Ruang Aula,
 Warung/Kantin,
 Ruang belajar,
 Perlengkapan pembelajaran PAUD,
 Perosotan dan ayunan,
 Modul dan buku-buku pelajaran yang disediakan oleh SKB dan sebagian dari Tutor yang mengajar.
 Perpustakaan, Dan lain-lain.
Sarana dan prasarana sudah memadai tetapi banyak yang rusak dan belum mengalami pembaharuan terutama buku-buku pelajaran yang digunakan oleh para warga belajar Paket B dan Paket C.

Gambar 2. Sarana Bermain PAUD
I. DANA
Dana bersumber dari pemerintah tetapi jumlahnya terbatas.

J. KONDISI PEGAWAI
Jumlah pegawai 15 orang (tahun kelahiran 1953 – 1975). Perempuan 8 orang dan selebihnya laki-laki. 14 orang menjabat sebagai pamong belajar muda dan 1 orang sebagai KA. SUB BAG. TU.

K. PERSYARATAN
1. Membawa ijazah pendidikan terakhir.
2. Pas foto.
3. Surat keterangan miskin dari lurah.
4. Harus membuat surat pernyataan.
5. Ketika mendaftar, harus diantar oleh orang tua.

L. STRUKTUR ORGANISASI

STRUKTUR ORGANISASI SKB BINJAI

BAB II
HASIL OBSERVASI

A. PAUD
PAUD di SKB Binjai pada umumnya hanya mempelajari tentang agama saja. Pelajaran mengenai transportasi menggunakan media pembelajaran. Proses pembelajaran dimulai pada pukul 08.30-10.30 WIB. Usia murid PAUD di SKB Binjai yaitu 4 – 6 tahun. Usia 4 – 5 tahun masuk kelas 0 kecil (6 orang), dan usia 5 – 6 tahun masuk kelas 0 besar (15 orang). Jumlah seluruh peserta didik PAUD yaitu 21 orang, 11 laki-laki dan 15 orang perempuan. Sedangkan jumlah gurunya ada 3 orang.

Gambar 3. Media Pembelajaran PAUD; Transportasi
Metode yang digunakan dalam pembelajaran berdasarkan Menu Pembelajaran. Misalnya, hari senin belajar tentang nama buah-buahan atau hewan. Kendala yang ditemukan dalam pembelajaran yaitu murid susah diatur dan rasa ingin tahunya kurang.
Kegiatan pembelajaran dilakukan secara berkelompok. Peralatan-peralatannya sudah memadai, buku-buku pelajaran disimpan di kelas sebelum pulang, karena apabila dibawa pulang, guru khawatir para murid lupa untuk membawa buku-buku pelajaran yang akan digunakannya di dalam kelas. Buku paket yang digunakan ada 6 per semester. Dan hasil proses pembelajaran akan diberikan pada akhir semester.

Gambar 4. Buku-buku Pelajaran
1. MENGGUNTING
Kegiatan menggunting misalnya menggunting bentuk bintang, lingkaran, dan bangun datar lainnya.

Gambar 5. Media Pembelajaran Huruf dan Bentuk
2. MELIPAT
Kegiatan melipat misalnya melipat kertas dengan berbagai bentuk, melipat pipet/sedotan dengan bentuk bunga, dan lain-lain.
3. MEWARNAI
Kegiatan mewarnai dilakukan secara bebas. Murid bebas mewarnai apa saja yang diinginkannya tanpa ada paksaan dari gurunya.

Gambar 6. Lemari Penyimpanan Perlengkapan
4. MENYUSUN
Kegiatan menyusun misalnya menyusun balok, menyusun sesuai dengan warna ataupun bentuk, dan lain sebagainya.

Gambar 7. Media Pembelajaran Balok
5. MENULIS
Kegiatan menulis misalnya menulis angka dan huruf, baik di buku, maupun di papan tulis.

Gambar 8. Papan Tulis dan Hasil Karya Melipat Peserta Didik
6. DAFTAR HADIR
Absen dilakukan melalui pertanyaan. Guru bertanya kepada murid siapa saja di antara mereka yang tidak hadir pada saat pelajaran berlangsung.
7. PENILAIAN
Penilaian diambil melalui kegiatan sehari-hari para murid, dengan menggunakan simbol bintang senyum untuk yang mendapat nilai yang bagus, dan bintang cemberut untuk yang mendapat nilai belum maksimal.

Gambar 9. Minanda Putri Sagita (Kanan) Foto Bersama Pendidik PAUD
B. KESETARAAN
Program Kesetaraan yang ada di SKB Binjai pada saat sekarang ini hanya 2, yaitu Paket B dan Paket C. Paket A belum digalakkan lagi oleh penyelenggara karena berbagai hambatan yang dihadapi, dan juga karena peserta didik lebih banyak masuk ke sekolah formal daripada nonformal.
1. PAKET B
Penyelenggara Paket B adalah Bapak Zailani. Nama kelompok belajar Paket B adalah Paket B “Mandiri”. Jumlah peserta didik seharusnya 25 orang tetapi yang ada 2 kelompok kelas 1 dan kelas 2. Jumlah peserta didik yang ada di kelas 1 yaitu 14 laki-laki dan 11 perempuan. Jumlah kelas 2 yaitu 12 laki-laki dan 13 perempuan.

Gambar 10. Siti Ativa Putridiani (Kanan) Foto Bersama Penyelenggara Program Paket B, Bapak Zailani (Kiri).
Di tahun 2011 ada anak yang berasal dari anak yang putus sekolah dan langsung masuk program Paket B. Peserta didik terdiri dari usia sekolah, terdiri dari anak yang putus sekolah, tidak mampu, dan lain sebagainya. Jenis pembelajarannya yaitu tatap wajah, tutorial, dan tugas mandiri. Tatap muka seminggu 5 kali pertemuan, pukul 08.00 – 12.00 WIB. Tutorial belum terprogram. Sedangkan dimodul sudah ada program mandiri. Guru untuk 1 kelompok ada 7 tutor. 1 hari ada 3 mata pelajaran, 1 mata pelajaran berlangsung selama 2 jam. Kegiatan ekstrakurikuler hanya ada Pramuka.
Tenaga pendidik yang ada di SKB Binjai terdiri dari Pamong belajar sebanyak 13 orang, sedangkan yang berasal dari guru formal berjumlah 4 orang. Sosialisasi SKB terhadap program-program Pendidikan Luar Sekolah pertama kali dilakukan pada tahun 1990an, dan pada tahun 1998 sudah tidak dilakukan sosialisasi lagi karena pihak SKB mengganggap para orang tua sudah mengetahui program-program tersebut meskipun hanya sekilas saja.
Pada dua tahun terakhir, minat warga belajar terhadap Program Paket B mulai berkurang karena adanya dana bos dari pemerintah untuk SLTP. Untuk ujian, dilaksanakan setiap semester. Untuk standar pendidikan mengacu kepada kurikulum.

2. PAKET C
Penyelenggara Paket C yaitu Bapak Muhaimin. Jumlah peserta didik kelas 1 adalah 30 orang, kelas 2 adalah 25 orang, dan kelas 3 adalah 30 orang siswa. Jadwal pembelajaran dimulai dari pukul 13.00 – 16.00 WIB. Dalam satu minggu dilakukan 5 kali pertemuan.

Gambar 11. Kondisi Ruang Belajar Paket C Sekarang

Metode pembelajaran yang digunakan yaitu tatap muka, praktik, dan tugas mandiri. Kendala yang dihadapi oleh warga belajar yaitu warga belajar jarang masuk alasannya karena mereka sedang bekerja. Persiapan untuk Ujian Nasional berupa Try Out yang diadakan oleh SKB Binjai. Pelajaran yang dipelajari sama dengan pendidikan formal, misalnya seperti Bahasa Indonesia, PKN, Bahasa Inggris, Geografi, Sosiologi, Ekonomi, Matematika, dan Pendidikan Agama.

Gambar 12. Perpustakaan SKB Binjai

C. KETERAMPILAN
Pendidikan keterampilan yang diberikan yaitu keterampilan tata rias pengantin dan anyaman bambu.

BAB III
PERMASALAHAN PELAKSANAAN PROGRAM PLS DI LAPANGAN

A. PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP
1. Kecakapan berpikir
Tingkat kecakapan berpikir seseorang akan berpengaruh terhadap kesuksesan hidupnya. Mengingat kehidupan manusia sebagian besar dipengaruhi oleh cara berpikir, maka peserta didik perlu diberi bekal dasar dan latihan-latihan dengan cara yang benar tentang kecakapan berpikir deduktif induktil ilmiah, kritis, nalar, rasional, lateral, sistem, kreatif, eksploratif, discovery, inventory, reasoning, pengambilan keputusan, dan pemecahan masalah. Selain itu, peserta didik harus diberi bekal dasar tentang kecintaan terhadap kebenaran, keterbukaan terhadap kritik dan saran, dan berorientasi kedepan.
2. Kecakapan memanfaatkan teknologi dalam kehidupan
Teknologi telah merambah ke segala kehidupan dan merupakan alat penggerak utama kehidupan. Bahkan keunggulan teknologi merupakan salah satu faktor daya saing yang ampuh. Salah satu faktor yang membuat negara berkembang tertinggal dengan negara maju adalah ketertinggalan teknologi. Generasi muda harus diberi bekal agar mengapresiasi pentingnya teknologi bagi kehidupan dan mempersiapkannya untuk mempelajari dan mengembangkan teknologi yang ada. Mereka harus dididik bagaimana bekerja dengan jenis-jenis teknologi dan disiapkan agar mereka memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi dalam berbagai kehidupan (pertanian, perikanan, peternakan, kerajinan, kerumahtanggan, kesehatan, komunikasii, industry manufaktur, perdagangan, kesenian, pertunujukan, olah raga, konstruksi, transportasi, dan perbankan). Peserta didik perlu dibekali cara-cara memilih teknologi, menggunakannya untuk tugas-tugas tertentu dan cara-cara memeliharanya.
3. Kecakapan bekerjasama dengan orang lain
Kehidupan, baik perusahaan, bank, pendidikan, maupun yang lain, yang akan dimasuki oleh tamatan PS dan PLS kelak pada umumnya bersifat kolektif. Tamatan PS dan PLS hanyalah merupakan bagian dari kehidupan tersebut. Mereka nantinya harus bisa bekerjasama secara harmonis dengan orang lain. Karena itu, sejak dini mereka perlu diberi bekal dan latihan: latihan yang dilakukan secara benar tentang cara-cara bekerja sama, menghargai hak asasi orang lain, pentingnya kebersamaan, tanggung jawab dan akuntabilitas perbuatan, keterbukaan, apresiasi keanekaragaman, kemauan baik yang kreatif, kepemimpinan, manajemen negosiasi, dan masih banyak hal-hal lain yang perlu diajarkan.
4. Kecakapan memanfaatkan informasi
Saat ini dan lebih-lebih di masa mendatang, informasi akan mengalir secara cepat dan deras dalam berbagai kehidupan. Siapa yang tertinggal inforrnasi akan tertinggal pula dalam kehidupannya. Jadi, informasi sudah merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada kehidupan seseorang. Untuk itu, peserta didik perlu dibekali cara-cara mendapatkan dan memanfaatkan aneka ragam informasi yang ada. Mereka harus dididik cara-cara mendapatkan dan mengevaluasi inforrnasi, mengorganisasi dan memelihara informasi, menafsirkan dan mengkomunikasikan informasi, dan menggunakan computer untuk mengolah data agar menjadi informasi.
5. Kecakapan berwirausaha
Kecakapan berwirausaha adalah kecakapan memobilisasi sumber daya yang ada di sekitarnya untuk mencapai tujuan organisasinya atau untuk keuntungan ekonomi. Kewirausahaan memiliki ciri-ciri: (1) bersikap dan berpikiran mandiri, (2) memiliki sikap berani menanggung resiko, (3) tidak suka mencari kambing hitam, (4) selalu berusaha menciptakan dan meningkatkan nilai sumber daya, (5) terbuka terhadap umpan balik, (6) selalu ingin perubahan yang lebih baik, (7) tidak pernah merasa puas, terus menerus melakukan inovasi dan improvisasi demi perbaikan selanjutnya, dan (8) memiliki tanggung jawab moral yang baik (http://PENDIDIKANKECAKAPANHIDUPKONSEPDASAR_infodiknas.com.htm).

B. PAUD
Permasalahannya adalah ketidaksiapan bangsa Indonesia menghadapi ketiga tantangan yang disebabkan rendahnya mutu sumber daya manusianya. Untuk menghadapi tantangan itu, diperlukan upaya serius melalui pendidikan sejak dini yang mampu meletakkan dasar-dasar pemberdayaan manusia agar memiliki kesadaran akan potensi diri dan dapat mengembangkannya bagi kebutuhan diri, masyarakat dan bangsa sehingga dapat membentuk masyarakat madani. Pendidikan anak usia dini merupakan hal paling mendasar yang dilakukan sedini mungkin dan dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu. Menyeluruh, artinya layanan yang diberikan kepada anak mencakup layanan pendidikan, kesehatan dan gizi. Terpadu mengandung arti layanan tidak saja diberikan pada anak usia dini, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat sebagai satu kesatuan layanan.
Permasalahan awal tahun
1. Tidak mau masuk kelas pada hari-hari pertama hingga sepekan.
2. Menangis minta pulang tanpa alasan, belum memiliki seragam, pipis/buang air besar atau sebab lainnya pada hari-hari pertama.
3. Perilaku agresif, seperti memukul, mengejek dan memarahi teman-temannya.
4. Tidak mau masuk ruang, kecuali dengan orangtuanya.
5. Tidak mau sekolah karena kawan-kawannya dinilai nakal.
6. Terjadi kecelakaan kecil seperti jatuh, kejepit/terbentur pintu/tembok atau lainnya.
7. Sakit yang dimiliki sebelum masuk sekolah, seperti flek, jantung, tipes, BDB atau lainnya.
8. Anak pulang sendiri semestinya ikut jemputan. Tidak ikut jemputan tetapi orang tua menjemput anaknya terlambat atau tidak dijemput tanpa memberitahu ke sekolah.
9. Mengambil barang temannya dengan maksud menggangunya.
10. Kata-kata dan tindakan kepada teman-temannya kasar.
11. Anak menyendiri karena dukungan orangtua kurang seperti : anak tidak pernah ikut infak, orangtua tidak pernah ke sekolah ketika ada kegiatan sekolah (http://sadidadalila.wordpress.com/2010/01/03/pentingnya-pendidikan-anak-usia-dini-di-indonesia/).

C. PENDIDIKAN KEPEMUDAAN
Masalah-masalah pemuda ini disebakan karena akibat dari proses pendewasaan seseorang, penyesuaian diri dengan situasi yang baru dan timbullah harapan setiap pemuda karena akan mempunyai masa depan yang baik daripada orang tuanya. Proses perubahan itu terjadi secara lambat dan teratur (evolusi). Dewasa ini umum dikemukakan bahwa secara biologis dan politis serta fisik seorang pemuda sudah dewasa akan tetapi secara ekonomis, psikologis masih kurang dewasa. Contohnya seperti pemuda-pemuda yang sudah menikah, mempunyai keluarga, menikmati hak politiknya sebagai warga Negara tapi dalam segi ekonominya masih tergantung kepada orang tuanya.
Masalah-masalah yang menyangkut generasi muda dewasa ini adalah:
1. Dirasakan menurunnya jiwa nasionalisme, idealisme dan patriotisme di kalangan generasi muda.
2. Kekurangpastian yang dialami oleh generasi muda terhadap masa depannya.
3. Kurangnya lapangan dan kesempatan kerja.
4. Masih banyaknya perkawinan-perkawinan di bawah umur.
5. Adanya generasi muda yang menderita fisik dan mental.
6. Pergaulan bebas.
7. Meningkatnya kenakalan remaja, penyalahagunaan narkotika.
8. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang mengangkut generasi muda.
Selanjutnya, tingginya angka putus sekolah ditengarai juga menjadi penyebab masih tingginya pernikahan (pertama kali) dalam usia muda di kalangan remaja perempuan. Sementara itu, tanpa introduksi gaya hidup sehat dalam kurikulum sekolah kebijakan apa pun guna menekan jumlah perokok di kalangan pelajar yang mencapai 60%, bak membangun tanggul banjir di hilir sungai. Padahal hulunya betul yang sudah gundul.

D. PENDIDIKAN KEAKSARAAN
1. Kurangnya minat, kecintaan, dan kegemaran membaca, menulis, dan berhitung.
2. Tidak ada kegiatan belajar mandiri.
3. Tidak ada penambahan wawasan tentang perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat terpencil.
4. Berkurangnya pemberdayaan masyarakat.
5. Belum ada pemberian pelayanan dibidang pendidikan dasar dalam rangka mensukseskan wajib belajar.
6. Pengetahuan dan keterampilan masyararakat miskin dalam bidang mata pencaharian belum berkembang.
7. Masyarakat banyak yang masih buta huruf, tidak tamat SD, dan berekonomi lemah.

E. PENDIDIKAN KESETARAAN
1. Belum seluruh muatan lokal dapat dikembangkan dr SK , KD di kelas 1 s.d. kelas 6.
2. KD secara keseluruhan belum terintegrasi dan memiliki keterkaitan yang bermakna dan bermanfaat bagi pengalaman belajar siswa.
3. Pengembangan materi pokok kurang menarik dan bermakna bagi siswa.
4. Rumusan indikator kurang dapat mengukur kompetensi yang diharapkan dapat dilakukan anak.
5. Rumusan pengalaman belajar ketrampilan kurang dikembangkan.
6. Kesulitan dalam memilih dan mengembangkan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan kontekstual.
7. Mapel ketrampilan kekurangan jam pelajaran, karena masih tergabung dengan mapel Seni Budaya.
8. Sarana dan prasarana termasuk SDM kurang memadai.
9. Pada umumnya materi apa yang dipilih oleh sekolah sangat tergantung dari kebijakan sekolah dalam menentukan materi ketrampilan yang sesuai dengan ketersediaan SDM dan kemampuan sekolah untuk menakses dan mengembangkan ketrampilan sebagai muatan lokal.

F. PENDIDIKAN KETERAMPILAN KERJA
1. Masalah Job Order.
2. Masalah kurikulum, pendidik dan sarana.
3. Masalah penempatan lulusan.
4. Masalah Peluang Usaha.
5. Masalah penempatan lulusan.
6. Masalah kurikulum, pendidik, dan sarana.

G. PENDIDIKAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
1. jenjang pendidikan yang ditamatkan perempuan jauh lebih rendah daripada laki-laki.
2. angka kematian ibu (AKI) yang disebabkan oleh kehamilan dan persalinan masih sangat tinggi.
3. Kesenjangan gender juga terjadi di bidang ketenagakerjaan.
4. peraturan perundang-undangan yang ada juga belum dilaksanakan secara konsekuen untuk menjamin dan melindungi hak-hak perempuan dan anak, termasuk memberikan perlindungan bagi perempuan dan anak dari tindak kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi.
5. Kebutuhan tumbuh-kembang anak juga belum sepenuhnya menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan.
6. partisipasi anak dalam proses pembangunan juga masih rendah.
7. rendahnya kualitas hidup dan peran perempuan.
8. tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.
9. rendahnya kesejahteraan dan perlindungan anak.
10. rendahnya peran perempuan dalam proses politik dan jabatan publik.
11. banyaknya hukum dan peraturan perundang-undangan yang bias gender, diskriminatif terhadap perempuan dan belum peduli anak; dan
12. lemahnya kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak, termasuk partisipasi masyarakat.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
Program-program Pendidikan Luar Sekolah yang ada di SKB Binjai yang ada sekarang ini yaitu Program Kesetaraan (Paket B dan Paket C), PAUD, dan Keterampilan. Kegiatan ekstrakurikuler yang ada hanya Pramuka saja. Pendidik maupun tenaga kependidikan yang ada di SKB Binjai ini kebanyakan dari guru-guru formal.

B. SARAN
Program-program yang ada di lingkungan Pendidikan Luar Sekolah sebaiknya di perbaharui. Karena apabila sudah mengalami pembaharuan, Program-program Pendidikan Luar Sekolah akan mengalami perubahan yang lebih baik. Ini juga tidak lepas dari perhatian pemerintah terhadap Pendidikan Luar Sekolah. Apabila pemerintah sudah mulai menggalakkan program-program Pendidikan Luar Sekolah, maka masyarakat dapat bersekolah dengan biaya yang tidak begitu mahal seperti halnya sekolah formal. Dan jika sarana dan prasarana maupun fasilitas di Pendidikan Luar Sekolah sudah diperbaharui, maka akan banyak masyarakat tertarik untuk mengikuti program-program PLS, terutama yang ada di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) maupun di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih Kami berikan kepada seluruh Pegawai maupun Staff yang ada di SKB Binjai, serta seluruh pihak yang telah membantu dalam kelancaran kegiatan observasi Kami sampai penyusunan laporan hasil observasi ini.

DAFTAR PUSTAKA

http://PENDIDIKANKECAKAPANHIDUPKONSEPDASAR_infodiknas.com.htm.

http://sadidadalila.wordpress.com/2010/01/03/pentingnya-pendidikan-anak-usia-dini-di-indonesia/.

Narasumber SKB Binjai.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: