sitiativa











{September 9, 2012}   Makalah Pendidikan Informal

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Persoalan pendidikan muncul bersamaan dengan adanya manusia itu sendiri di atas dunia (hidup) oleh karena manusia itu merupakan “homoeducandum” yang artinya manusia itu pada hakikatnya merupakan makhluk yang di samping dapat dan harus dididik, juga dapat dan harus mendidik.
Dengan demikian, pernyataan di atas memperluas arti pendidikan yang sebenarnya berorientasi bahwa manusia dengan pendidikan adalah dunia sekolah. Sesungguhnya pendidikan merupakan kegiatan yang selalu mendampingi hidup manusia, sejak dari bangsa yang sederhana peradabannya sampai bangsa yang tertinggi peradabannya.

B. DASAR PENDIDIKAN INFORMAL
UU Sisdiknas, Bagian Keenam Pendidikan Informal:
Pasal 27:
1. Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
2. Hasil pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.
3. Ketentuan mengenai pengakuan hasil pendidikan informal sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah (http://edukasi.kompasiana.com/2011/05/09/pelaksanaan-hak-peserta-didik-jalur-pendidikan-informal-3/).

C. TUJUANPENDIDIKAN INFORMAL
Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan.Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dazn merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh segenap kegiatan pendidikan.

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN PENDIDIKAN INFORMAL
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_informal).
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan (http://id.answers.yahoo.com/question/index/qid20090219231756AAxNjVR).
Pendidikan informal menurut Axin (1976) dan Soedomo (1989) yang menyatakan bahwa dalam pendidikan informal warga belajar tidak sengaja belajar dan pembelajar tidak sengaja untuk membantu warga belajar. Suprojanto (2007) memberikan contoh bahwa pendidikan informal terjadi dalam keluarga, melalui media massa, acara keagamaan, pertunjukan seni, hiburan, kampanye, partisipasi dalam organisasi, dan lain-lain (http://warnapastel.multiply.com/journal/item/52).
Pendidikan informal adalah pendidikan dalam keluarga yang berlangsung sejak anak dilahirkan. Dalam keluarga yang memahami arti penting pendidikan keluarga, maka ia akan secara sadar mendidik anakanaknya agar terbentuk kepribadian yang baik. Sedangkan dalam keluarga yang kurang mengerti arti penting pendidikan keluarga, maka perilakunya sehari-hari secara tidak sadar adalah pendidikan buat anak (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2144938-kegiatan-lembaga-pendidikan-informal/).
Pendidikan informal sama sekali tidak terorganisasi secara struktural, tidak terdapat penjenjangan kronologis, tidak mengenal adanya ijazah, waktu belajar sepanjang hayat, dan lebih merupakan hasil pengalaman individual mandiri dan pendidikannya tidak terjadi di dalam medan interaksi belajar mengajar buatan (Aini, Wirdatul. 2006).
Menurut DR. Philip H. Coombs, pendidikan in formal ialah pendidikan yang diperoleh seseorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seseorang lahir sampai meninggal.

B. HUBUNGAN PENDIDIKAN INFORMAL, FORMAL, DAN NON FORMAL
1. Pendidikan Informal dan Pendidikan Nonformal
a. Persamaan
1) Kedua – duanya terjadi di luar Pendidikan Formal.
2) Tidak berdasarkan usia.
3) Materi bersifat praktis.
4) dapat diselenggarakan atau berlangsung di dalam atau di luar sekolah.
b. Perbedaan

Pendidikan Informal
1) Diselenggarakan di luar sekolah.
2) Pendidikan tidak di program secara tertentu.
3) Tidak ada waktu belajar.
4) Metode mengajar tidak formal.
5) Evaluasi tidak sistematis.
6) Tidak diselenggarakan pemerintah.

Pendidikan Nonformal
1) Diselenggarakan di dalam sekolah.
2) Pendidikan di program secara tertentu.
3) Ada waktu belajar tertentu.
4) Metode mengajar lebih formal.
5) Evaluasi sistematis.
6) Diselenggarakan pemerintah dan pihak swasta.

C. CONTOH PENDIDIKAN INFORMAL
1. Agama, moral.
2. Budi pekerti.
3. Sopan santun.
4. Etika dan Sosialisasi (http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_informal).

D. CIRI – CIRI PENDIDIKAN INFORMAL
1. Pendidikan berlangsung terus – menerus tanpa mengenal tempat dan waktu.
2. Guru adalah orang tua.
3. Tidak adanya manajemen yang jelas (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/ 2144938-kegiatan-lembaga-pendidikan-informal/).
Adapun ciri – ciri proses pendidikan dalam keluarga yang berfungsi bagi perkembangan anak adalah sebagai berikut.
1. Proses pendidikan tidak terikat oleh waktu dan tempat. Artinya, proses pendidikan yang dilakukan dalam pendidikan informal tidak menentukan kapan dan di mana proses belajar itu.
2. Proses pendidikan dapat berlangsung tanpa adanya guru dan murid, atau sebaliknya, proses belajar sosial atau sosialisasi berlangsung antara anggota yang satu dengan anggota yang lain, tanpa ditentukan siapa yang menjadi guru dan siapa yang menjadi murid. Namun demikian, proses belajar sosial atau sosialisasi akan dilakukan oleh orang tua, saudara, dan kerabat dekatnya. Dengan demikian, pendidikan ini sifatnya alami sesuai dengan kondisi apa adanya.
3. Proses pendidikan dapat berlangsung tanpa adanya jenjang dan kelanjutan studi, proses pendidikan dalam pendidikan informal tidak adanya jenjang yang menentukan untuk dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena sifatnya yang informal itulah, maka hasil dari proses pendidikan dalam keluarga dapat terlihat dari kualitas diri atau kepribadian anggota keluarga dalam kehidupan sehari-hari.
4. Proses dapat berlangsung antar-anggota keluarga, proses pendidikan ini berlangsung dari orang tua, saudara, paman, bibi atau kerabat terdekat dalam keluarga. Dengan demikian, tidak mengenal persyaratan usia, fisik, mental, tidak ada kurikulum, jadwal, metodologi, dan evaluasi (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2144938-kegiatan-lembaga-pendidikan-informal/).

E. PERANAN KELUARGA
Di dalam lingkungan informal, seseorang secara sadar atau tidak, disengaja atau tidak, direncanakan atau tidak, memperoleh sejumlah pengalaman yang berharga, sejak lahir hingga akhir hayatnya. Lembaga keluarga merupakan lembaga terkecil yang pertama kali dialami oleh seorang individu, yang dapat mengajarkan berbagai peran dan nilai-nilai sosial. Dalam proses sosialisasi, keluarga memiliki peranan penting, terutama dalam memperkenalkan:
a) Penguasaan Diri.
Masyarakat menuntut adanya penguasaan dan penyelarasan diri dengan segala norma dan aturan yang ada terhadap anggota – anggotanya. Peranan orang tua dalam melatih anak – anaknya untuk menguasai diri dapat dilakukan dengan pelatihan bagaimana cara memelihara dan menjaga kebersihan dirinya. Penguasaan diri ini berkembang, dari yang bersifat fisik sampai emosional. Anak harus belajar menahan kemarahannya terhadap orang tua atau saudara – saudaranya. Penguasaan diri sangat penting artinya bagi kestabilan kejiwaan anak dalam pergaulan sehari-hari. Tanpa memiliki kemampuan untuk menguasai diri, maka kejiwaan anak tidak akan stabil, dan mengganggu proses perkembangannya.
b) Nilai-Nilai
Penanaman nilai-nilai dapat dilakukan bersamaan dengan pelatihan penguasaan diri, bagaimana anak dapat meminjamkan alat permainannya kepada temannya, dan juga kepadanya diajarkan kerjasama. Sebagai contoh, sambil mengajarkan anak menguasai diri agar tidak bermain – main sebelum mengerjakan pekerjaan rumahnya, kepadanya diajarkan nilai sukses dalam pekerjaan. Nilai – nilai demikian sangat besar fungsinya bagi proses internalisasi kebiasaan baik pada anak.
c) Peranan – peranan Sosial
Pengenalan dan belajar tentang peran – peran sosial dapat terjadi melalui interaksi dalam keluarga. Setelah dalam diri anak tertanam pengusaan diri, dan nilai – nilai sosial yang dapat membedakan dirinya dengan orang lain, ia mulai mempelajari peran – peran sosial yang sesuai dengan gambaran dirinya. Ia mempelajari peranannya sebagai anak, sebagai saudara (kakak/adik), sebagai laki – laki atau perempuan.

Dengan mengenal perannya, baik dalam keluarga maupun lingkungan masyarakat, maka anak akan dapat berperan dengan baik sesuai dengan fungsinya dalam peranan tersebut.
Pendidikan informal merupakan pendidikan yang berlangsung dalam keluarga sejak anak dilahirkan, dimana seseorang secara sadar atau tidak, disengaja atau tidak, direncanakan atau tidak, memperoleh sejumlah pengalaman yang berharga, sejak lahir hingga akhir hayatnya.
Pengalaman – pengalaman dalam keluarga inilah yang disebut dengan proses pendidikan informal (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/ 2144938-kegiatan-lembaga-pendidikan-informal/).
Ada beberapa peranan orangtua terhadap pendidikan, yaitu:
1. Orangtua mempercayai sekolah (pendidik) yang menggantikan tugasnya selama di sekolah.
2. Orang tua harus memperhatikan sekolah anaknya dengan memperhatikan pengalaman – pengalamannya dan menghargai usaha – usaha serta menunjukkan kerja samanya dalam cara anak belajar di rumah atau membuat pekerjaan rumahnya.
3. Memberikan dasar pendidikan, sikap, dan keterampilan dasar untuk mematuhi peraturan, dan menanamkan kebiasaan – kebiasaan.
4. Mengajarkan nilai – nilai dan tingkah laku yang sesuai dengan yang diajarkan di sekolah.

F. PENYELENGGARA PENDIDIKAN INFORMAL
1. Pendidikan yang dilakukan oleh orangtua.
2. Pendidikan yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok pengasuhan.
3. Kelompok pengajian/majelis ta’lim.
4. Remaja masjid, remaja pura, dan remaja Kristen.
5. PHBK Posyandu (Perilaku Hidup Berwawasan Kependudukan) melalui Posyandu dan PHBK lainnya.

G. PEMBAGIAN PENDIDIKAN INFORMAL
1. Pendidikan Keluarga
a. Sifat – sifat Umum Pendidikan Keluarga
1) Lembaga Pendidikan Tertua
Lembaga pendidikan lahir “sejak adanya manusia dimana orang tua sebagai pendidiknya dan anak sebagai si terdidiknya.”
2) Lembaga Pendidikan Informal
Tidak mengenal perjenjangan atas dasar usia maupun keterampilan.
3) Lembaga Pendidikan Pertamadan Utama
Anak memperoleh pendidikan sejak ia lahir dan pendidikan keluarga merupakan pembentuk dasar kepribadian anak.
4) Bersifat Kodrat
Karena terdapatnya hubungan darah antara pendidik dan anak didiknya.
b. Fungsi Pendidikan Keluarga
1) Pengalaman Pertama Masa Kanak – kanak
Anak memperoleh “pengalaman pertama yang merupakan faktor penting dalam perkembangan pribadi anak” selanjutnya.
2) Menanamkan Dasar Pendidikan Moral
Pendidikan ini selanjutnya menyentuh pendidikan moral anak-anak oleh karena di dalam keluargalah terutama tertanam dasar – dasar pendidikan moral.

3) Memberikan Dasar Pendidikan Kesosialan
Memupuk berkembangnya benih – benih kesadaran sosial pada anak – anak.
4) Menjamin Kehidupan Emosional Anak
Kehidupan emosional anak pada waktu kecil berarti menjamin pembentukan pribadi anak selanjutnya.
5) Pendidikan Keluarga merupakan Lembaga Pendidikan untuk Meletakkan Dasar Pendidikan Agama bagi Anak.

c. Sifat Khusus Pendidikan Keluarga
1) Sifat Menggantungkan Diri
Anak yang baru lahir memiliki sifat serta tergantung pada orang tuanya.
2) Anak Didik Kodrat
Keluarga merupakan lembaga pendidikan yang mengikat anak secara takdir menjadi anak didik dalam pendidikan tersebut.
3) Kebutuhan Anak Didik dalam Keluarga dan Kesukaran Pendidikan
Kedudukan anak dalam susunan keluarga, sering menimbulkan problema pendidikan.

d. Realisasi dalam Pendidikan Keluarga
1) Pendidikan yang diberikan orang tua.
2) Rumah penitipan anak yatim-paitu.
3) Sekolah terbuka.
4) Program Kejar.

2. Pendidikan di dalam Perkumpulan Pemuda
a. Di dalam Memasuki Alam Kedewasaan
Individu sering terlibat di dalam kegiatan – kegiatan yang sebenarnya mengarah pada program pendidikan, walaupun kadang – kadang proses ini kurang disadari individu masing – masing.
b. Kegiatan yang Berhubungan dengan Organisasi Pemuda sebagai Lembaga Pendidikan
1) Organisasi muda – mudi di kampong – kampung.
2) Perkumpulan olahraga.
3) Organisasi kesenian.

3. Pendidikan untuk Orang yang Sudah Dewasa dan Lanjut Usia
a. Dengan Makin Majunya Zaman, Maka Usia Manusia Makin Tinggi
Usia manusia makin tinggi sehingga ini menambah jumlah orang dewasa dan jumlah orang yang lanjut usia.
b. Pendidikan yang Dapat Dicontohkan
1) Organisasi kesenian.
2) Organisasi olahraga.
3) Organisasi professional: IDI, PGRI.
4) Organisasi peserta KB (Akseptor).
5) Kontak tani.

BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Pendidikan informal dilakukan oleh keluarga maupun lingkungan. Tujuannya untuk memberikan keyakinan agama, menanamkan nilai budaya, nilai moral, etika dan kepribadian, estetika serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: