sitiativa











{September 9, 2012}   PRINSIP-PRINSIP DAN KEBUTUHAN BELAJAR ORANG DEWASA

Berdasarkan uraian sebelumnya, telah dikemukakan bahwa orang dewasa yang datang pada suatu pertemuan/kegiatan belajar telah memiliki konsep diri dan membawa pengalaman-pengalaman masa lampau. Hal ini akan mewarnai orang dewasa dalam setiap aspek kegiatan belajar yang dilaksanakannya.
Para pengelola dan pelaksana pada pendidikan orang dewasa dalam membelajarkan mereka perlu memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa. Hal itu akan dapat memudahkan kita menolong mereka dalam mengarahkan mereka sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan dan diharapkannya. Terdapat beberapa prinsip yang perlu diperhatikan, antara lain sebagai berikut.
a. Problem Centered
Pembelajaran harus berpusat pada masalah yang dihadapi warga belajar/orang dewasa. Masalah adalah kesenjangan antara yang diinginkan dengan kenyataan yang ada. Masalah yang ada tersebut perlu dicarikan pemecahannya. Dalam membelajarkan orang dewasa belajar selalu dipusatkan pada masalah. Seorang pembimbing/fasilitator dan tutor harus dapat merangsang mereka untuk belajar. Pembimbing tersebut juga harus dapat meyakinkan orang dewasa bahwa yang akan dipelajari itu merupakan suatu masalah yang menyangkut tentang dirinya.
Kenapa dalam membelajarkan orang dewasa selalu dipusatkan pada masalah (problem centered). Alasannya adalah orang dewasa akan mau belajar kalau dia menemui masalah. Dengan demikian mereka akan belajar karena yang dipelajarinya itu mempunyai manfaat baginya dan mereka merasa perlu untuk menghadapi masalah yang dihadapinya, misalnya petani tradisional akan belajar kalau ada masalah, seperti hasil ladangnya yang tidak memenuhi kebutuhan sehingga mereka ingin belajar bagaimana cara meningkatkan hasil pertanian.
b. Fungsional
Dalam proses belajar orang dewasa, hendaknya apa yang dipelajari itu mempunyai arti atau mempunyai fungsi untuk warga belajar, sebab orang dewasa akan mau belajar apabila yang dipelajari ada manfaat bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, sebelum memberikan pendidikan kepada warga belajar, seorang pembimbing tutor, fasilitatorharus melakukan identifikasi kebutuhan warga belajar. Seandainya kita memberikan pendidikan kepada masyarakat nelayan, maka pembimbing harus memberikan pendidikan tentang teknik penangkapan ikan yang baik, sehingga dapat diperoleh hasil yang memadai.
c. Experience Centered/Berpusat pada Pengalaman
Pemusatan pelajaran pada pengalaman. Maksudnya di sini bahwa dalam membelajarkan haruslah dipusatkan kepada pengalaman warga belajar. Pengalaman-pengalaman WB dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan belajar. Oleh sebab itu, di dalam proses interaksi belajar orang dewasa, merekalah yang semestinya banyak berbuat. Dengan kata lain, warga belajar dilibatkan dalam proses belajar, karena dengan keterlibatan tersebut maka mereka akan merasa bertanggungjawab. Apabila pelajaran yang diberikan didasarkan pada pengalaman mereka, maka secara otomatis mereka akan tertarik untuk belajar, karena yang dipelajari berhubungan dengan keinginan mereka.
d. Merumuskan Tujuan
Dalam kegiatan belajar orang dewasa, mereka dilibatkan sejak dari awal sampai dengan berakhirnya kegiatan belajar. Warga belajar ikut menentukan sendiri apa yang akan dipelajarinya, merumuskan tujuan yang akan dicapai, dan melaksanakan kegiatan belajarnya. Dengan melibatkan mereka sejak dari awal sampai akhir maka diharapkan hasil belajar akan dapat dicapai dengan baik.
e. Feed Back (Balikan)
Umpan balik di sini artinya warga belajar mengetahui hasil belajar yang telah dicapainya. Apabila mereka telah mengetahui hasil belajarnya, maka warga belajar diharapkan dapat meningkatkan kegiatannya ke arah perbaikan cara belajarnya. Warga belajar harus tahu sampai dimana proses belajar itu telah dilaluinya.
Penilaian dalam proses belajar sangat diperlukan, warga belajar harus mendapatkan umpan balik dari proses belajarnya. Sampai dimana kemampuan mereka dalam belajar, sampai dimana pelajarandapat dicapai dan dikuasai. Apakah pelajaran tersebut dapat merubah cara ke arah perbaikan diri sendiri, dan apakah belajar dapat memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan adanya umpan balik tersebut akan sangat menentukan kegiatan belajar selanjutnya.
Selanjutnya, Miller mengidentifikasikan enam kondisi yang prinsip bagi keberhasilan orang dewasa dalam belajar, yaitu:
1) Warga belajar orang dewasa harus dimotivasi agar berubah tingkah lakunya,
2) Warga belajar harus disadarkan akan ketidakmampuannya untuk berperilaku,
3) Warga belajar harus memiliki gambaran yang jelas terhadap tingkah laku yang diajukan,
4) Warga belajar harus diberi kesempatan untuk mempraktekkan tingkah laku yang diinginkan,
5) Warga belajar harus mendapat dukungan atas tindakannya yang benar, dan
6) Warga belajar harus memiliki serangkaian materi yang tepat untuk dipraktekkan.

Kebutuhan Belajar Orang Dewasa.

Pendidikan orang dewasa dapat. diartikan sebagai keseluruhan proses pendidikan yang diorganisasikan, mengenai apapun bentuk isi, tingkatan status dan metoda apa yang digunakan dalam proses pendidikan tersebut, baik formal maupun non-formal, baik dalam rangka kelanjutan pendidikan di sekolah maupun sebagai pengganti pendidikan di sekolah, di tempat kursus, pelatihan kerja maupun di perguruan tinggi, yang membuat orang dewasa mampu mengembangkan kemampuan, keterampilan, memperkaya khasanah pengetahuan, meningkatkan kualifikasi keteknisannya atau keprofesionalannya dalam upaya mewujudkan kemampuan ganda yakni di suatu sisi mampu mengem-bangankan pribadi secara utuh dan dapat mewujudkan keikutsertaannya dalam perkembangan sosial budaya, ekonoini, dan teknologi secara bebas, seimbang dan berkesinambungan.
Dalam kaitan ini, tentunya pendidikan orang dewasa yang memiliki harga diri dan dirinya membutuhkan pengakuan, dan itu akan sangat berpengaruh dalam proses belajamya. Secara psikologis, dengan mengetahui kebutuhan orang dewasa sebagai peserta kegiatan pendidikan/pelatihan, maka akan dapat dengan mudah dan dapat ditentukan kondisi belajar yang harus disediakan, isi materi apa yang harus diberikan, strategi, teknik serta metode apa yang cocok digunakan. Menurut Lunandi (1987) yang terpenting dalam pendidikan orang dewasa adalah: Apa yang dipetajari pelajar, bukan apa yang diajarkan pengajar. Artinya, hasil akhir yang dinilai adalah apa yang diperoleh orang dewasa dan pertemuan pendidikan/pelatihan, bukan apa yang dilalukukan pengajar, pelatih atau penceramah dalam pertemuannya.
Menurut Vemer dan Davidson dalam Lunandi (1987) ada enam faktor yang secara psikologis dapat menghambat keikutsertaan orang dewasa dalam suatu program pendidikan:
1. Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglilhatan atau titik terdekat yang dapat dilihat secara jelas mulai hergerak makin jauh. Pada usia dua puluh tahun seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya. Sekitar usia empat puluh fahun titik dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23 cm.
2. Dengan bertambahnya usia, titik jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat dilihat secara jelas mulai berkurang, yakni makin pendek. Kedua faktor ini perlu diperhatikan dalam pengadaan dan penggunaan bahan dan alat pendidikan.
3. Makin bertambah usia, makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu situasi belajar. Kalau seseorang pada usia 20 tahun memerlukan 100 Watt cahaya1 maka pada usia 40 tahun diperlukan 145 Watt, dan pada usia 70 tahun seterang 300 Watt baru cukup untuk dapat melihat dengan jelas.
4. Makin bertambah usia, persepsi kontras warna cenderung ke arah merah daripada spektrum. Hal ini disebabkan oleh menguningnya komea atau lensa mata, sehingga cahaya yang masuk agak terasing. Akibatnya ialah kurang dapat dibedakannya warna-warna lenmbut. Untuk jelasnya perlu digunakan warna-warna cerah yang kontras untuk alat-alat peraga.
5. Pendengaran atau kemampuan menerima suara mengurang dengan bertambahnya usia. Pada umumnya seseorang mengalami kemunduran dalam kemampuannya membedakan nada secara tajam pada tiap dasawarsa dalam hidupnya. Pria cenderung lebih cepat mundur dalam hal ini daripada wanita. Hanya 11 persen dan orang berusia 20 tahun yang mengalami kurang pendengaran. Sampai 51 persen dan orang yang berusia 70 tahun ditemukan mengalami kurang pendengaran.
6. Pemhedaan bunyi atau kemampuan untuk membedakan bunyi makin mengurang dengan bertambahnya usia. Dengan demikian, bicara orang lain yang terlalu cepat makin sukar ditangkapnya, dan hunyi sampingan dan suara di latar belakangnya bagai menyatu dengan bicara orang. Makin sukar pula membedakan bunyi konsonan seperti t, g, b, c, dan d.



Jalius HR says:

Apa yang di uraikan di atas juga berlaku pada anak remaja, belum lagi menunjukan khasnya orang dewasa.



iya pak. mkasi y pak atas tambahannya..šŸ™‚



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: