sitiativa











{September 9, 2012}   Tugas Resume

 

 

 

 

BAB I

PEMBAHASAN

 

 

  1. A.    HAKEKAT BELAJAR DAN PENDIDIKAN
    1. Konsep Dasar Belajar dan Pendidikan

              Pendidikan tidak dapat dilepaskan dari aturan (norma) yang ada. Belajar ada yang tidak mengandung norma, contohnya belajar membunuh, pencuri mengajar temannya agar mampu mencuri, atau menipu. Karena itu tidak ada istilah pendidikan untuk menipu, atau pendidikan untuk membuat orang menjadi munafik.

              Memang setiap pembelajaran harus mengandung unsur pendidikan, namun kenyataan yang terjadi tidak seperti itu. Begitulah realita yang dijumpai dewasa ini. Akibatnya belajar tanpa mengandung unsur pendidikan/norma, peserta didik akan mempunyai kompetensi dasar atau kemampuan tertentu, tetapi kemampuan yang dimiliki itu digunakan kepada yang tiddak sesuai dengan norma yang seharusnya.

  1. Kaitan Hakekat Belajar dan Hakekat Manusia

              Belajar adalah suatu proses perubahan yaitu tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan penyesuaian diri dengan lingkungannya. Belajar juga dapat dikatakan sebagai “suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam kehidupannya.

Jika ditinjau hakekat manusia menurut pandangan islam, maka manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang harus beraktifitas selama hayatnya dalam rangka menumbuhkembangkan potensi yang dimilikinya dengan tetap memelihara kesucian diri (fitrah) menurut norma yang ditetapkan oleh Tuhan. Oleh karena itu, manusia harus mengembangkan potensi yang dimilikinya, maka sangat perlu manusia tersebut memperoleh pelajaran atau belajar sepanjang hayatnya. Inilah kaitan antara hakekat belajar dengan hakekat manusia.

  1. B.     PEMIKIRAN-PEMIKIRAN KEBERADAAN PLS

Pandangan para tokoh pendidik pendidikan tentang pendidikan sistem persekolahan. Dari pandangan-pandangan yang dikemukakan manfaat yang dapat diambil adalah para tokoh pendidik tersebut akan mengembangkan pendidik luar sekolah sebagai alternative dalam rangka peran sertanya untuk mengembangkan masyarakat.

Pemikiran-pemikiran para tokoh pendidik dari luar negeri tentang kelemahan pendidikan sistem persekolahan, dengan maksud dalam rangka pengembangan sistem pendidikan luar sekolah.

Diantara tokoh pendidikan yang berasal dari luar negeri yang dikemukakan oleh Sudjana (1991) adalah sebagai berikut.

  1. Philip Combs

Menurut Combs, 4 faktor kelemahan pendidikan persekolahan, yakni:

  1. Pertambahan penduduk yang semakin pesat tidak semuanya dapat ditampung oleh lembaga pendidikan formal.
  2. Sumber-sumber untuk pendidikan kurang memadai, sehingga pendidikan formal kurang dapat merespon secara cepat dan tepat kebutuhan dan perkembangan masyarakat.
  3. Kelambanan sistem pendidikan sekolah untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di luar pendidikan.
  4. Kelambanan masyarakat itu sendiri dalam memanfaatkan lembaga dan lulusan pendidikan sekolah sehingga jurang perbedaan antara jumlah dan kemampuan para lulusan dengan lapangan kerja makin   melebar.

Selain itu pendidikan formal terutama pada jenjang menengah dan perguruan tinggi, cenderung untuk memupuk sikap elit sehingga para lulusannya sering kurang tertarik terhadap pekerjaan kasar yang biasa dilakukan oleh masyarakat.

 

  1. Ivan Illich

Illich (1972) menggambarkan bahwa sekolah menopoli pendidikan lebih menitik beratkan produknya berupa lulusan yang hanya didasarkan hasil penilaian dengan menggunakan angka-angka dan ijazah. Sekolah telah mengaburkan makna belajar dan mengajar, jenjang pendidikan dan tingkat kemampuan, pemilikan ijazah dan kemampuan lulusan untuk berprestasi dan berinovasi. Proses pendidikan didominasi oleh guru yang cendrung merampas harga diri peserta didik. Guru memerankan perannya sebagai hakim, menanganjurkan ideologi, dokter dan peramal rahasia kehidupan, peserta didik di masa depan.

 

  1. Paulo Freire

Freire mengkritik dampak yang ditimbulkan oleh pendidikan sekolah terhadap masyarakat luas. Kehadiran para lulusan sekolah menyebabkan makin tumbuhnya masyarakat yang merasa tertekan. Ada kelompok masyarakat yang menekan dan ada yang tertekan. Ketidak berhasilan sekolah terlihat dari kurang mampunya sekolah mengembangkan peserta didik untuk berfikir kritis sehingga mereka kurang mampu memecahkan maslah yang timbul. Kegiatan belajar didominasi oleh guru dan berperan sebagai penekan (oppressor), dan peserta didik berada pada tertekan (oppressed).

Freire menganjurkan guru berperan sebagai fasilitator dan mengajak peserta didik berfikir terhadap dunia kehidupan. Sumbangan fikiran yang utama dalam pendidikan adalah konsep “concientizacao” (kesadaran). Artinya warga didik sebagai individu yang aktif dan potensial. Pendidikan harus mampu membangkitkan kesadaran peserta didik terhadap dirinya dan lingkungannya. Hubungan guru dengan murid dirubah dari vertical menjadi horizontal. Hubungan horizontal ini mengandung 3 prinsip, yaitu:

  1. Tidak seorangpun dapat mengajar orang lain secara tuntas.
  2. Tidak seorangpun dapat belajar sendiri tanpa bantuan orang lain.
  3. Belajar bersama orang lain dengan cara berfikir dan bertindak didalam dan terhadap dunia kehidupannya.

      Freire memandang pendidikan menggunakan konsep Banking, yakni pemindahan pengetahuan guru kepada murid. Kemudian juga mengemukakan sekolah hanya berupa penjinakan murid (domestication) dan makin rendahnya kemampuan analisis siswa terhadap lingkungannya dan makin tingginya tingkat ketergantungan terhadap orang lain.

 

  1. Lyra Srinivasan

Kondisi warga belajar di negara berkembang, cenderung tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi, merasa rendah diri, cepat patah semangat, merasa tidak berdaya terhadap tekanan yang datang dari lingkungannya, sikap hormat yang berlebihan pada guru yang dianggap tokoh bijaksana, dan tidak mempercayai adanya nilai praktis pendidikan bagi kepentingan kehidupan mereka sehari-hari. Ia menganjurkan 3 macam pembelajaran dalam mengatasi kondisi tersebut:

  1. Pendekatan yang berpusat pada masalah.
  2. Pendekatan proyektif.
  3. Pendekatan aktualisasi diri.

Ketiga pendekatan ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pendidikan, yaitu:

  1. Kebutuhan untuk memperkuat kemampuan WB dalam upaya memecahkan masalah.
  2. Kebutuhan untuk melengkapi WB dengan berbagai keterampilan untuk menghadapi lingkungan secara lebih baik.
  3. Kebutuhan untuk mengembangkan potensi WB dan memperkuat kesadaran diri secara positif.

 

  1. Suzanne Kindervatter

Konsepnya terkenal dengan Empowering Procces, yakni proses pemberian kekuatan  atau daya adalah setiap upaya pendidikan yang bertujuan membangkitkan kesadaran, pengertian, kepekaan WB terhadap perkembangan sosial, ekonomi, dan politik sehingga pada akhirnya ia memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kedudukannya dalam masyarakat. Ada 8 kekuatan dalam pembelajaran, yaitu:

  1. Belajar dilakukan dalam kelompok kecil.
  2. Pemberian tanggungjawab yang lebih besar kepada WB.
  3. Kepemimpinan kelompok.
  4. Sumber belajar bertindak selaku fasilitator.
  5. Proses kegiatan berlangsung secara demokratis.
  6. Adanya kesatuan pandangan dan langkah dalam mencapai tujuan.
  7. Menggunakan metode dan teknik pembelajaran yang dapat menimbulkan percaya diri pada WB.
  8. Bertujuan akhir untuk meningkatkan status sosial, ekonomi, dan politik WB dalam masyarakat.

 

  1. Evarett Raimer

Reimer terkenal dengan karyanya School is Deat (Sekolah sudah Mati). Artinya, sekolah tidak lagi memberikan kebebasan berkembang pada peserta didik. Segalanya guru yang mengatur, dan murid orang yang diatur. Sekolah tidak lagi menjalankan fungsinya, yakni memberikan kesempatan berkembang pada peserta didik.

 

  1. C.    ALASAN YURIDIS DAN NON YURIDIS PENGEMBANGAN PLS DI INDONESIA
  2. Alasan Yuridis Pengembangan PLS
    1. Pancasila, UUD 1945 GBHN

Pancasila adalah landasan pelaksanaa pendidikan di Indonesia. Dalam UUD 1945 mengamanatkan pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu system pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan Tuhan Yang Maha  Esa serta akhlak mulia dan rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dalam Undang-undang. Pasal –pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan PLS adalah pasal 27, pasal 28, pasal 29, pasal 30, pasal 31, pasal 32, dan pasal 33. Kemudian dalam GBHN pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah perlu disesuaikan dengan perkembangan tuntutan pembangunan yang memerlukan berbagai jenis pendidikan, kejuruan dan keahlian.

 

  1. Undang-undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

1)      Pasal 13 ayat 1 jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.

2)      Pasal 26 ayat 3 pendidkan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

3)      Pasal 26 ayat 4 kesatuan pendidikan non formal terdiri atas lembaga kursus, lembaga pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat dan majelis taklim serta satuan pendidikan yang sejenis.

4)      Pasal 28 ayat 4 pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan non formal berbentuk Kelompok Bermain(KB), Taman Penitipan Anak (TPA) atau bentuk lain yang sederajat.

 

  1. UU Tentang Otonomi Daerah
  2. Keputusan Menteri dan Pemda

 

  1. Alasan Non Yuridis Pengembangan PLS

Ada beberapa alasan secara factual historis yang melatarbelakangi pendidikan luar sekolah sebagaimana yang dikemukakan oleh Faisal (1981) sebagai berikut:

  1. Alasan Factual Historis

Alasan factual historis yang dimaksud adalahnkesejarahan, kebutuhan pendidikan, keterbatasan pendidikan persekolahan, potensi sumber belajar dan ketelantaran PLS. Untuk lebih jelasnya satu persatu akan diuraikan.

1)      Kesejarahan

Jika kita pelajari sejarah masa lalu dalam kehidupan masyarakat keberadaan PLS jauh lebih tua dari system persekolahan (pendidikan formal). Para nabi dan rasul tuhan yang biasanya melakukan perubahan mendasar terhadap kepercayaan, cara berfikir, sopan santun dan cara-cara hidup di dalam menikmati kehidupan dunia ini berdasarkan sejarah, usaha atau gerakan yang dilakukan bergerak di dalam jalur pendidikan luar sekolah. Pada waktu itu sistem persekolahan belum ada.

2)      Kebutuhan Pendidikan

Berbagai jenis program pendidikan luar sekolah muncul baik dari segi kuantitas  maupun kualitasnya, dari yang sederhana sampai kepada yang sangat rumit dan kompleks.

3)      Keterbatasan Pendidikan Persekolahan

Sistem persekolahan memiliki keterbatasan, ini terliat dari ciri khas sistemnya, tujuan dan isi pendidikannnya telah dipaketkan atau dibakukan sedemikian rupa dengan masa belajar tertentu. Sehingga masih banyak kebutuhan pendidikan lainnya yang belum atau tidak menjadi bagian di dalam tujuan dan isi pendidikan sistem persekolahan.

4)      Potensi Sumber Belajar

Pengalaman belajar pada kenyataannya dapat diperoleh di berbagai tempat dan melalui berbagai cara. Seseorang yang datang keperpustakaan mendapat pengalaman pendidikan atau penglaman belajar. Jadi potensi sumber belajar banyak ditemukan di dalam masyarakat.

5)      Ketelantaran PLS

Dalam pengembangan ternyata pembinaan dan pengembangan PLS agak tertinggal. Ini tidak berarti bahwa PLS menghilang dari peredaran di tengah-tengah masyarakat. PLS tetap tumbuh dan berkembang dalam masyarakat.

 

  1. Alasan Sosiologis

Upaya membantu masyarakat dalam memecahkan masalah tidak hanya dapat diatasi melalui pendidikan formal saja. Banyak masalah sosial di dalam masyarakat memerlukan pemecahan melalui pendidikaan luar sekolah. Misalnya banyak pemuda yang menganggur setelah menyelesaikan pendidikan  formal, dan ini memerlukan pemecahan secara serius dan intensif, diantaranya dilakukan dengan pemberian keterampilan kerja kepada pemuda tersebut.

 

  1.  Alasan Cultural

Pelestarian identitas bangsa, pemeliharaan warna dasar dari kepribadian bangsa, termasuk tugas dan usaha gerakan pendidikan. Defenisi pendidikan adalah mentransformasikan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.

 

  1.  Alasan Perkembangan Ipteks

Untuk menjadikan masyarakat memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan oleh pasaran kerja, bukan hanya tanggung jawab pedidikan formal semata, tetapi tanggung jawab lembaga pendidikan luar sekolah.

 

  1. D.    AZAS-AZAS PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
  2. Azas Kebutuhan

Banyak para ahli mengemukakan pengertian kebutuhan diantaranya Sudjana (1991) kebutuhan adalah sesuatu yang harus dipenuhi.

Kebutuhan dalam kehidupan manusia adalah sesuatu yang pokok yang sangat perlu untuk dipenuhi, jika tidak kehidupan seseorang akan terancam dan orang tersebut tidak merasa puas dan bahagia. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari pemenuhan kebutuhan fisik adalah kebutuhan yang sangat pokok sekali, makanya kebutuhan akan makan merupakan kebutuhan yang pertama sekali dipenuhi seseorang sebelum orang itu memenuhi kebutuhan lainnya. Kemudian kebutuhan yang juga merupakan kebutuhan yang paling penting pula dalam kehidupan manusia adalah kebutuhan akan pekerjaan, karena pekerjaan ini adalah sebagai kunci untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya.

Teori kebutuhan yang terkenal dikemukakan oleh Maslow (1971). Berdasarkan teorinya, ia mengemukakan hierarki kebutuhan atau tingkatan kebutuhan. Orang memenuhi kebutuhan dari kebutuhan yang paling bawah, kemudian apabila sudah terpenuhi, maka orang akan meningkat lagi kepada kebutuhan yang di atasnya. Kebutuhan-kebutuhan yang dikemukakan Maslow.

  1. Kebutuhan pisik, seperti makan, minum, pakaian, adalah yang pokok sekali.
  2. Kebutuhan rasa aman, manusia membutuhkan ketentraman, lepas dari gangguan alam dan lingkungan sosial, terhindar dari ancaman.
  3. Kebutuhan rasa memiliki (sense of belonginis), setiap orang ingin hidup berkawan, bergaul dengan lingkungan sosial dan lebih jauh ingin cinta dan memiliki.
  4. Kebutuhan akan penghargaan, setiap orang ingin dihargai, dihormati, hasil pekerjaannya ingin dapat perhatian orang lain.
  5. Kebutuhan yang paling tinggi adalah kebutuhan akan perwujudan diri (self actualization), orang akan merasa puas apabila ia telah dapat mewujudkan dirinya, menampilkan bakat-bakat dan kemampuan yang dimiliki. Kebutuhan akan perwujudan diri ini dimiliki oleh masyarakat yang mempunyai status yang tinggi.

 

  1. Azas Pendidikan Sepanjang Hayat

Kehadiran pendidikan sepanjang hayat disebabkan oleh munculnya kebutuhan belajar dan kebutuhan pendidikan yang terus tumbuh dan berkembang selama alur kehidupan manusia. Pendidikan sepanjang hayat sebagaimana yang dijelaskan oleh Unesco, memberikan arah terhadap PLS agar jalur pendidikan ini dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip.

  1. Pendidikan hanya berakhir apabila manusia telh meninggal dunia yang fana ini.
  2. Pendidikan luar sekolah merupakan motivasi yang kuat bagi peserta didik untuk berperan dalam merencanakan dan melakukan kegiatan belajar secara terorganisasi dan sistematis.
  3. Kegiatan belajar ditujukan untuk memperoleh, memperbaharui dan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, ketrampilan dan aspirasi yang telah dimiliki oleh peserta didik atau masyarakat berhubung dengan adanya perubahan yang terus-menerus sepanjang kehidupan.
  4. Pendidikan memiliki tujuan-tujuan berangkai dalam mengembangkan kepuasan diri setiap insan yang melakukan kegiatan belajar.
  5. Perolehan pendidikan merupakan prasyarat bagi perkembangan kehidupan manusia, baik intuk memotifasi diri maupun untuk meningkatkan kemampuannya agar manusia melakukan kegiatan belajar guna memenuhi kebutuhan hidupnya.
  6. Pendidikan luar sekolah mengakui eksistensi dan pentingnya pendidikan sekolah.

     Pendidikan sepanjang hayat menegaskan bahwa saat untuk mengalami pendidikan adalah seumur hidup dan sepanjang jaga. Tujuan pendidikan sepanjang hayat adalah tidak sekedar untuk adanya perubahan melainkan untuk tercapainya kepuasan diri pihak yang melakukannya.

Fungsi pendidikan sepanjang hayat adalah sebagai kekuatan untuk memotifasi bagi peserta didik agar ia dapat melakukan kegiatan belajar berdasarkan dorongan dan arhan dari dirinya sendiri dengan cara berfikir dan berbuat di dalam dan terhadap dunia kehidupannya.

 

  1. Azas Relevansi

Asas relevansi dengan pengembangan masyarakat mengandung 2 makna. Pertama, bahwa kehadiran pendidikan luar sekolah di dasarkan atas tuntutan dengan pengembangan masyrakat. Pendidikan luar sekolah merupakan subsistem dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan luar sekolah juga penting keberadaannya dalam masyarakat. Kedua, program-program pendidikan luar sekolah berfungsi untuk menggarap sumber daya manusia dan dalam laju pengembangan masyarakat.

Banyak kegiatan-kegiatan pendidikan luar sekolah di dalam masyarakat secara keseluruhan mengembangkan sumber daya manusia. Misalnya adanya kelompok-kelompok belajar dalam masyarakat, pendidikan kesetaraan (paket A,B,C), pendidikan ke agamaan dimesjid-mesjid dan banyak lagi yang lain, kegiatan pendidikan luar sekolah baik terprogram maupun yang tidak terprogram.

Pengembangan masyarakat mempunyai tujuan untuk terjadinya:

  1. Peningkatan kualitas hidup dan kehidupan masyarakat
  2. Pelesrtarian dan peningkatan kualitas lingkungan,
  3. Terjabarnya kebijaksanaan dan program pembangunan nasional di masing-masing pedesaan, dengan menitik beratkan pada prakarsa masyarakat itu sendiri.

Pengembangan masyarakat didasarkan atas kebutuhan individual masyarakat, dan pemerintah serta potensi-potensi yang tersedia atau dapat disediakan untuk mewujudkan kemajuan masyarakat. Pengembangan masyarakat mencakup komponen-komponen yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan berproses untuk mencapai tujuan.

Komponen-komponen pengembangan masyarakat mencakup masukan lingkungan, masukan sarana, masukan mentah, proses dan keluaran.

Pengembangan masyarakat mengandung arti sebagai usaha sadar dan terarah yang diselenggarakan oleh, untuk, dan dalam masyarakat, dalam upaya merubah taraf kehidupan mereka sendiri ke arah yang lebih baik.

 

  1. Azas Wawasan Ke Masa Depan

Masa depan itu ditandai dengan adanya ciri-ciri yaitu kecendrungan globalisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, arus komunikasi yang semakin cepat dan padat, serta penigkatan pelayanan yang professional.

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, kegiatan pendidikan luar sekolah sudah sewajarnya memperhatikan ciri-ciri tersebut, dan berusaha mengembangkan program-program yang relevan dengan kebutuhan masyarakat masa depan itu.

 

  1. E.     PLS SEBAGAI SISTEM

Pendidikan luar sekolah sebagai suatu sistem mempunyai elemen-elemen yang saling berkaitan dalam rangka mencapai suatu tujuan.

  1. Pengertian  Sistem

Sistem adalah suatu totalitas yang terdiri dari unsur atau elemen. Elemen merupakan bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lain dalam mencapai tujuan. Misalnya tubuh manusia merupakan suatu sistem yang terdiri dari unsur yaitu bagian kepala, badan dan anggota badan.

Sistem merupakan komponen-komponen yang saling berkaitan. Jika salah satu komponen tidak berjalan maka akan menghambat dalam mencapai tujuan.

 

  1. Cakupan PLS

Kegiatan pendidikan luar sekolah mencakup program-program yang di organisir, dan direncanakan secara matang, serta program-program yang kurang direncanakan secara terinci. Program-program yang direncanakan Misalnya program paket A, B, dan C. Program yang kurang terencana misalnya wirid-wirid di mesjid, penyuluhan pertanian, dll.

Pendidikan luar sekolah cakupannya sangat luas diantaranya dimulai dari pendidikan sedini mungkin, pendidikan untuk pemuda, dan pendidikan untuk orang dewasa.

 

  1. Sub-sub sistem dalam PLS

Menurut Sudjana (1991) PLS dapat dipandang sebagai suatu sistem. Yang berarti bahwa PLS memiliki komponen-komponen yang saling berkaitan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Komponen-komponen yang ada dalam PLS itu antara lain:

  1. Masukan mentah (Raw input) adalah warga belajar dengan berbagai ciri yang dimilikinya.
  2. Proses adalah kegiatan pembelajaran dengan pendekatan bervariasi mulai dari pedagogi dan andragogi.
  3. Keluarga (out put) yaitu kuantitas lulusan yang disertai dengan kualitas perubahan tingkah laku yang didapat melalui kegiatan belajar membelajarkan.
  4. Masukan sarana (instrumental input) meliputi kesluruhan sumber dan fasilitas yang memungkinkan bagi seseorang atau kelompok dalam melakukan kegiatan belajar, termasuk tujuan program, kurikulum, pendidik (tutor, pelatih, maupun fasilitator), tenaga kependidikan lainnya, pengelola program, sumber belajar, media, fasilitas, biaya dan pengelolaan program.
  5. Masukan lingkungan (environmental input) yaitu faktor lingkungan yang menunjang atau mendorong berjalannya program pendidikan, meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sosial, kelompok sosial, lingkungan alam seperti, iklim, lokasi tempat tinggal dsb.
  6. Masukan lain (other input) adalah daya dukung lain yang memungkinkan para peserta didik dan lulusan yang dapat menggunakan kemampuan yang telah dimiliki untuk kemajuan hidupnya. Meliputi dana atau modal, lapangan kerja atau usaha, informasi, alat dan fasilitas, pemasaran, lapangan kerja paguyuban peserta didik (warga belajar) latihan lanjutan, bantuan eksternal dsb.
  7. Pengaruh (impact) menyangkut hasil yang di dapat oleh peserta didik dan lulusan. Pengaruh ini meliputi:

1)      Perubahan tahap hidup yang ditandai dengan perolehan pekerjaan, atau berwirausaha, peningkatan pendapatan dan penampilan diri.

2)      Kegiatan membelajarkan orang lain dalam memanfaatkan hasil belajar yang telah ia miliki.

3)      Peningkatan partisipasi dalam kegiatan sosial dan pembangunan masyarakat, baik partisipasi buah pikiran, tenaga dan dana.

 

  1. F.     PLS DALAM SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL

Pendidikan luar sekolah mempunyai kedudukan  yang sama dengan pendidikan sekolah dalam rangka menjalankan fungsinya ikut serta dalam membangun masyarakat secara keseluruhan.

  1. Pendidikan Sebagai Pranata

Menurut sudjana (1991) pendidikan dapat dibedakan sebagai pranata dan sebagai kegiatan. Sebagai pranata, pendidikan merupakan suatu wahana atau mekanisme yang mempunyai struktur kelembagaan, peraturan, tugas dan tata kerja. Di Indonesia, struktur kelembagaan pendidikan dimiliki oleh instansi pemerintah dan swasta yang bergerak di bidang pelayanan pendidikan.

Pendidikan adalah organisasi formal yang memiliki identitas yang jelas dan mempunyai kaitan yang erat dengan sektor-sektor lain dalam kehidupan bangsa. Sebagai kegiatan (setting) pendidikan menyangkut hasil dan proses kegiatan. Hasil kegiatan menggambarkan jumlah dan mutu lulusan program pendidikan.

 

  1. Pls Dalam Sistem Pendidikan Nasional

PLS dalam sistem pendidikan nasional terdiri dari 2 subsistem yaitu subsistem pendididkan sekolah dan subsistem luar sekolah. Subsistem pendidikan sekolah program-program pendidikannya bersifat formal yang dilaksanakan mulai dari TK sampai perguruan tinggi. Subsistem pendidikan luar sekolah mencakup program pendidikan non formal dan informal. Dilaksanakan dalam keluarga dan pengalaman sehari-hari. Dilaksanakan dalam masyarakat melalui kelompok-kelompok belajar, kursus, kelompok bermain TPA, dan satuan pendidikan sejenis.

Ketiga program pendidikan disebut Tri Pusat Pendidikan. Keterkaitan antara ketiga lingkungan pendidikan ini dikembangkan atas prinsip Tri Kondisi pendidikan yaitu konsistensi, kontinyutas dan konvergensi.

 

  1. Sistem Pendidikan Luar Sekolah dalam Kaitannya dengan Supra Sistem Pembangunan.

Di Indonesia pembangunan di arahkan kepada beberapa sistem: Sistem pendidikan nasional, sistem ideologi nasional, sistem politik nasional, sistem ekonomi nasional, sistem budaya nasional dan sistem hamkamrata. Semua sistem ini perlu dikembangkan dan berkaitan satu sama lain. Kesemua sistem ini perlu dibangun secara terus-menerus. Masyarakat adil dan makmur akan tercapai jika sistem-sistem ini semua dibangun secara sejalan, serasi dan seimbang.

 

  1. G.    PENDIDIKAN ORANG DEWASA DALAM KERANGKA PENDIDIKAN SEPANJANG HAYAT

Pendidikan sepanjang hayat merupakan asas pendidikan yang cocok bagi orang-orang yang hidup dalam dunia transformasi, dan di dalam masyarakat yang saling mempengaruhi seperti saat zaman globalisasi sekarang ini. Setiap manusia dituntut untuk menyesuaikan dirinya secara terus menerus dengan situasi baru.

Menurut konsep pendidikan sepanjang hayat, kegiatan-kegiatan pendidikan dianggap sebagai suatu keseluruhan. Seluruh sektor pendidikan merupakan suatu sistem yang terpadu. Konsep ini harus disesuaikan dengan kenyataan serta kebutuhan masyarakat yang bersangkutan. Suatu masyarakat yang telah maju akan memiliki kebutuhan yang berbeda dengan masyarakat yang belum maju. Apabila sebahagian besar masyarakat suatu bangsa masih banyak yang buta huruf, maka upaya pemeberantasan buta huruf di kalangan orang dewasa mendapat prioritas dalam sistem pendidikan sepanjang hayat. Tetapi, di negara industri yang telah maju pesat, masalah bagaimana mengisi waktu senggang akan memperoleh perhatian dalam sistem ini.

Pendidikan bukan hanya berlangsung di sekolah. Pendidikan akan mulai segera setelah anak lahir dan akan berlangsung sampai manusia meninggal dunia, sepanjang ia mampu menerima pengaruh-pengaruh. Oleh karena itu, proses pendidikan akan berlangsung dalam keluarga, sekolah dan masyarakat.

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi proses perkembangan seorang individu sekaligus merupakan peletak dasar kepribadian anak. Pendidikan anak diperoleh terutama melalui interaksi antara orang tua – anak. Dalam berinteraksi dengan anaknya, orang tua akan menunjukkan sikap dan perlakuan tertentu sebagai perwujudan pendidikan terhadap anaknya.

Pendidikan di sekolah merupakan kelanjutan dalam keluarga. Sekolah merupakan lembaga tempat dimana terjadi proses sosialisasi yang kedua setelah keluarga, sehingga mempengaruhi pribadi anak dan perkembangan sosialnya. Sekolah diselenggarakan secara formal. Di sekolah anak akan belajar apa yang ada di dalam kehidupan, dengan kata lain sekolah harus mencerminkan kehidupan sekelilingnya. Oleh karena itu, sekolah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan budayanya. Dalam kehidupan modern seperti saat ini, sekolah merupakan suatu keharusan, karena tuntutan-tuntutan yang diperlukan bagi perkembangan anak sudah tidak memungkinkan akan dapat dilayani oleh keluarga. Materi yang diberikan di sekolah berhubungan langsung dengan pengembangan pribadi anak, berisikan nilai moral dan agama, berhubungan langsung dengan pengembangan sains dan teknologi, serta pengembangan kecakapan-kecakapan tertentuyang langsung dapat dirasakan dalam pengisian tenaga kerja.

 

BAB II

TANGGAPAN

 

 

Proses transformasi masyarakat atau sering disebut globalisasi tidak saja mengubah kehidupan manusia, tetapi juga mengubah kecenderungan dalam hal pendidikan dan belajar. Dikenali akan terjadi perubahan mendasar dalam hal pendidikan dan belajar. Pendidikan harus berfungsi ganda, yakni membina kemanusiaan (human being) melalui pengembangan seluruh pribadi manusia, dan pengembanagn sumber daya manusia (human resources) untuk memasuki kehidupan baru. Makin lama bekerja dan belajar menjadi satu kesatuan bingkai pendidikan sepanjang hayat. oleh karena pengetahuan maju dan  bertambah, maka agar bisa melaksanakan pekerjaan dengan baik, seseorang harus meningkatkan pengetahuannya melalui pendidikan secara berkelanjutan.

Desakan untuk belajar terus-menerus semakin lama semakin kuat, pendidikan dan belajar pada hakikatnya adalah kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu belajar di luar sekolah dan di luar universitas perannya semakin lama semakin penting. Di masa lalu, sekolah dan universitas menjadi pusat utama atau bahkan satu-satunya pusat kegiatan belajar. Pada saat ini, tempat kerja secara berangsur-angsur telah menjadi pusat kegiatan belajar yang baru, tempat kerja telah menjadi tempat belajar yang penting.

Kesadaran masyarakat terhadap pendidikan semakin meluas. Kesadaran ini timbul terutama karena perkembangan ekonomi, kemajuan iptek dan perkembangan politik. Kesadaran juga tumbuh pada seseorang yang merasa tertekan akibat kebodohan, keterbelakangan atau kekalahan dari kompetisi pergaulan dunia yang menghendaki suatu keterampilan dan keahlian tertentu. Atas dasar kesadaran dan kebutuhan inilah sehingga terwujudlah bentuk-bentuk kegiatan kependidikan baik yang bersifat persekolahan ataupun di luar persekolahan.

Akibat dari keterbatasan, memungkinkan kegiatan kependidikan yang bersifat informal atau nonformal diselenggarakan, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

KESIMPULAN

Pengembangan pendidikan luar sekolah di Indonesia secara hukum didasarkan kepada pancasila, UUD 1945, diantaranya adanya beberapa pasal dalam UUD 1945 yang berkaitan dengan pendidikan luar sekolah (pasal 27, 28, 29, 30, 31, dan 33). Kemudian dalam Undang-undang No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, diantaranya jalur pendidikan terdiri atas informal, formal, dan non formal. Pendidikan luar sekolah mencakup : pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan dan lain-lain.

 

 

 

 



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

et cetera
%d blogger menyukai ini: